16/12/2024
Kenangan Terakhir yang Menggetarkan Hati
Di sebuah desa yang permai, di mana waktu seolah berjalan lebih lambat, hiduplah sepasang suami isteri yang begitu dicintai oleh seluruh warga desa. Pak Hassan, dengan rambut putihnya yang lembut tertiup angin, dan Mak Salmah, dengan senyumnya yang selalu menenangkan, adalah pasangan yang tidak pernah terpisah.
Setiap pagi, Pak Hassan akan membangunkan Mak Salmah dengan secangkir teh hangat dan sebuah ciuman lembut di kening. Mereka akan duduk di beranda rumah tua mereka, menyaksikan matahari terbit.
Namun, kebahagiaan mereka mulai memudar ketika penyakit perlahan merenggut kesehatan Mak Salmah. Penyakit itu bagai pisau yang perlahan menusuk hati Pak Hassan. Setiap hari, dia melihat cinta hidupnya semakin lemah, dan rasa takut akan kehilangannya semakin membesar.
Suatu malam, ketika hujan turun dengan deras, Mak Salmah memanggil Pak Hassan. Dengan suara yang lemah, ia meminta Pak Hassan untuk membacakan cerita dongeng kegemarannya, dongeng yang pernah mereka baca bersama saat masih muda. Dengan hati yang hancur, Pak Hassan membacakan dongeng itu, air matanya deras bagai tetesan hujan membasahi pipinya.
"Abang," lirih Mak Salmah, "aku tidak takut mati, tapi aku takut meninggalkan abang."
Pak Hassan memeluk Mak Salmah erat-erat, berusaha menenangkan hatinya. "Aku akan selalu ada untukmu, Sayang. Janji."
Namun, janji itu tak mampu menunda takdir. Beberapa hari kemudian, Mak Salmah menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan Pak Hassan. Dunia seakan runtuh bagi Pak Hassan. Ia merasa sebatang kara, kehilangan separuh jiwanya...
Tahun berganti tahun, rambut Pak Hassan semakin memutih, tubuhnya semakin longlai, namun cintanya kepada Mak Salmah tak pernah pudar. Ia hidup dalam kenangan, dalam setiap hela nafasnya, dalam setiap detak jantungnya.