Datacademy

Datacademy Pelopor Bootcamp intensif sebulan penuh. Pembukaan Kelas Baru untuk akhir Juni, Info dan registrasi melalui link ini https://bit.ly/tanyadatacademy

Data Scientists jobdesc reality vs expectations menurut Dr. Angshuman Gosh
31/05/2022

Data Scientists jobdesc reality vs expectations menurut Dr. Angshuman Gosh

Data Scientist Job expectations VS Data Scientist Job Reality

Post Credit: Dr Angshuman Ghosh

Kalo Data Science dimisalkan sebuah daerah, inilah petanya 😊
04/04/2022

Kalo Data Science dimisalkan sebuah daerah, inilah petanya 😊

Menahami OOP (Pemrograman Berbasis Objek) ala dunia Squid Game
08/01/2022

Menahami OOP (Pemrograman Berbasis Objek) ala dunia Squid Game

08/01/2022

Persaingan antara JavaScript dan Python dalam Data scientists itu seperti.... 😅😅

Cakupan bidang python teramat luas, muali dari Software development, mobile app, Data Science, Machine Learning, NLP, Ar...
25/08/2021

Cakupan bidang python teramat luas, muali dari Software development, mobile app, Data Science, Machine Learning, NLP, Artificial Intelligence hingga ke Game Development.

Dari sekian bidang yg luas itu, sudahkah sobat Datacademy semua memikirkan bidang kompetensi mana yang ingin diseriusi?

26/07/2021

Selamat buat para peserta Kelas Machine Learning Algorithms yang telah menuntaskan Bootcamp. Share review pengalaman belajar selama sebulan ini yuk...
Apa yg Datacademy bisa perbaiki? ☺

May Allah fulfil all our wishes and bless us with His kindness and love. Happy Eid! Selamat Idul Adha 1442 H/2021M 😊🙏
20/07/2021

May Allah fulfil all our wishes and bless us with His kindness and love. Happy Eid!

Selamat Idul Adha 1442 H/2021M 😊🙏

JABATAN STRUKTURAL DAN EXPERTISE FUNGSIONALSebuah artikel mengenai pentingnya punya skill spesifikOleh Ferizal Ramli----...
30/06/2021

JABATAN STRUKTURAL DAN EXPERTISE FUNGSIONAL

Sebuah artikel mengenai pentingnya punya skill spesifik
Oleh Ferizal Ramli
----------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika aku diskusi dengan seorang sahabatku yang blio adalah Dosen tapi juga Komisaris (ingat klo Dosen boleh merangkap komisaris). Aku amat setuju sahabatku itu jadi komisaris karena memang integritas full honest & honor serta kompetensinya mumpuni untuk jadi komisaris membedah anatomi perusahaan. Nah, karena posisinya komisaris maka aku butuh advice-nya.

Kataku: aku dapat tawaran jadi CFO atau COO untuk sebuah Perusahaan di Indonesia yang ASSET-NYA trilyun-nan. Aku butuh berrdiskusi dengan orang yang kuanggap paham Indonesia that I can put trust on his advice. Tapi aku malah dapat pengetahuan menarik dari mindset dan caranya bereaksi…

Nah, value percakapanku ku-share disini:

Aku bilang “kegalauanku”, iya Posisi CFO atau COO itu amat keren prestisius tapi mau berapa lama? Apakah akan sustain? Lagian berarti aku harus pindah habis-habisan dari Jerman ke Indonesia. Bagaimana fasilitas sekolah anak2ku? Bagaimana fasilitas kesehatannya? Bagaimana dengan jaminan hari tua? Bagaimana dengan… dll, dll.

Catatan: Secara gaji memang ada selisih beda signifikan antara posisiku di Jerman dengan tawaran di Indonesia, tapi gaji yang kuterima saat ini toh di Jerman juga amat lebih dari cukup. Paling tidak jika standard Subsidi Asuransi Kesehatan Jerman sebagai “border”-nya, maka asuransi kesehatanku sudah lama sekali ndak dapat hak subsidi sama sekali dari pemerintah Jerman, dan income-ku jauh diatas “border” itu.

Selain itu kan di Jerman kita sustain, aman dan terjamin. Gaji juga selalu naik. Tidak ada kasus gaji tiba-tiba besar, tapi bisa-bisa besok pagi di-FIRE. Tidak lazim disini rejeki suatu Ketika hujan lebat deras berlebihan, lalu tiba-tiba panceklik kerontang yang amat gersang.

Jadi agar aku bisa ambil decision akurat, aku butuh saran professional dari sahabatku yang komisaris dan intelektual brilyant itu.

Lalu Sahabatku tanya: “Saiki neng Jerman ngopo kowe Fer?” Kujawab: “Aku Principal Consultant”. Lalu dia bilang, wah mending ambil COO atau CFO neng Indonesia. Itu neng Jerman kan cuma kerjaan fungsional teknis toh? Sepiro sih reward-nya klo cuma pekerjaan fungsional teknis.

Aha, aku dapat pointnya sekarang. Rupanya di kita (Indonesia) Jenjang Karir Fungsional itu ndak dapat respek. Akibatnya, tradisi orang yang menjadi MAISTRO di bidangnya tidak terbangun. Orang berebut ke Jalur Managerial: jadi Direktur atau Komisaris. Akibatnya, tradisi kualitas orang yang jago di process chain inovasi tidak terbangun.

Sahabatku di Indonesia ndak punya clue sama sekali tentang apa arti reward expert di Jerman. Sahabatku mikirnya seperti Indonesia. Di Fungsional teknis di Indonesia ternyata memang reward-nya “getir bingits”. Orang jadi pada berebut ke Struktural sikut-sikutan. Padahal para Ekspert di Fungsional teknis lah kunci dari tradisi kualitas world class.

Kelak aku tahu gaji Fungsional teknis seperti ku di Indonesia paling 20-35 juta saja per bulan, amat sedikit dan langka yang nawarkan sampai 50 jeti. Bandingkan dengan Gaji seorang Direkturnya, itu tidak sebanding sama sekali.

Ingat yah Biaya Hidup di Jerman JAUH lebih murah dari di Jakarta bahkan dari di Yogya saja murahan di Jerman, dengan catatan: KUALITAS hidupnya sama. Jelas mringis getir lah klo perbandingannya funsional ekspert di Indonesia (secara umum) dengan Gaji Direkturnya.

Sementara jika kita di Struktural Corporate Gajinya bisa ratusan juta belum bonusnya. Ini sebabnya TIDAK ada yang mau konsisten di jenjang Fungsional sebagai ekspert menjadi MAISTRO di bidangnya.

Hanya apa kerugiannya jika Perusahaan di negara kita TIDAK punya tradisi membangun jenjang fungsional terhormat? Akan berlaku pameo: „Jack of all Trades, Master of None!”. Tradisi kualitas World Class tidak akan pernah terbentuk.

Yang ada adalah cuma bisa bisa sedikit-sedikit secara general, lalu buat intrik berebut ramai-ramai sikut2an untuk meraih posisi structural yang memang amat sedikit dalam organisasi. Para Professional dan Ekspert bukan sibuk berkarya, tapi sibuk membuat intrik “Office Management” dan “bangun relasi” untuk menduduki posisi manajerial.

Ini lah kelemahan paling mendasar kenapa akhirnya nyaris tidak ada perusahaan Indonesia yang World Class. Yang ada adalah Palugada yang artinya “Jack of all Trades, Master of None!”

Ini juga rupanya (menurutku), yang membuat Para Pembicara Motivator menjadi amat laku. Dikarenakan mereka men-suggesti dengan cara: „Anda hebat, anda super, anda memiliki kecerdasan spiritual untuk bisa menduduki jabatan itu!“. Sugesti-2 seperti itu dibutuhkan untuk berebut posisi manajerial yang penuh intrik. Kadang butuh dhukun bahkan ke Bukit Kemukus segala :P

Klo disini Pembicara Motivator ra payu blass. Kita tahu para motivator itu tidak punya ekspertise fungsional teknis, kecuali yah memotivasi untuk sesuatu yang sesungguhnya dia juga tidak tahu. Sesungguhnya yang dibutuhkan bukan motivator tapi para mentor berpengalaman yang mendidik dan mentransfer serta mengkader seorang yang Junior menjadi Ekspert Word Class di bidangnya melalui bersama berproses menghasilkan inovasi dan optimisasi sebuah full life process chain sebuah industry!

Sekarang kembali dengan sikapku. Padaku kuputuskan tetap berkarir di Jerman saja. Gajinya terjamin toh lebih dari cukup dan kontinyu sampai umur 65 tahun selalu naik, selama ndak buat kesalahan fatal. Sekolah anak-anakku terjamin amat baik, kesehatan terjamin amat baik, hari tua dengan semua fasilitas asuransi yang sudah kusiapkan terjamin amat baik.

Klo pindah ke Indonesia, untuk sekolah yang sekualitas putriku saat ini gratis di Jerman maka berkaca dengan biaya sekolah Maudi Ayunda saat Sekolah Menengah bisa 21 juta per bulan. Klo 2 anak berarti 42 juta per bulan baru biaya sekolah :D . Sementara disini (Jerman) cukup bayar Pajak maka semuanya gratis. Bayangkan sudah biaya kuliah semahal itu tiba-tiba diberhentikan jadi CFO atau COO? Apa ndak mrenges?

Sementara untuk mengabdi tanah air yah tinggal kuputuskan ambil Posisi Strategis di Universitas di Indonesia dan Universitas di Jerman untuk membangun kerja sama Jerman-Indonesia TANPA minta gaji sama sekali. Non financial compensation at all. Bekerja dengan kehormatan, ehrenamtliche Arbeit.

Jadi, bisa tetap berkarir di Jerman tapi bisa memberikan kontribusi sebisanya buat Indonesia tanpa sama sekali dibayar, karena hidupnya biar dibayar Jerman aja…



Ferizal Ramli

STEP BELAJAR DATA SCIENCEData Science merupakan ilmu yg sedang happening. Banyak orang yg tertarik ingin mempelajari.Nam...
20/06/2021

STEP BELAJAR DATA SCIENCE

Data Science merupakan ilmu yg sedang happening. Banyak orang yg tertarik ingin mempelajari.

Namun sayangnya banyak yg tidak sabar, ingin langsung terlihat "canggih" dengan potong kompas belajar studi kasus yang best practice saja tanpa mau belajar dari dasar.

Padahal belajar teori Data Science secara fundamental sangat diperlukan supaya pondasi keilmuan kita kokoh, yang pada gilirannya akan mempertajam teknik kita menganalisa data.

Oleh karena itu Datacademia musti sabar dan telaten untuk belajar teori fundamental nya yah... Jangan potong kompas

Kini semakin banyak jenis bahasa pemrograman yang bisa Anda temukan di zaman digital seperti sekarang. Hanya dengan baha...
20/06/2021

Kini semakin banyak jenis bahasa pemrograman yang bisa Anda temukan di zaman digital seperti sekarang. Hanya dengan bahasa itulah, seorang programmer dapat dengan mudah membuat program komputer. Dimana fungsinya akan menjadikan suatu pekerjaan semakin cepat dikerjakan berkat sebuah program tersebut. Berbagai program pun bisa dijalankan oleh siapapun, seperti menghitung jumlah data, mengkaji penelitian, hingga meneliti data keuangan.

Perlu diketahui jika ingin menjadi seorang programmer paling tidak harus belajar tentang pemrograman bahasa. Banyak situs-situs di internet yang menjadi platform belajar bahasa komputer untuk dipelajari. Tak ada salahnya Anda mulai belajar akan hal ini dan mengaplikasikannya dengan cara praktik langsung. Nah, berikut adalah jenis-jenis bahasa pemrograman beserta kelebihan dan kekurangannnya masing-masing

Salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur popularitas dan keberhasilan bahasa pemrograman adalah jumlah I...
16/06/2021

Salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur popularitas dan keberhasilan bahasa pemrograman adalah jumlah IDE (Integrated Development Environment) yang dapat digunakan.

Beberapa IDE Python terbaik yang memiliki dukungan mencakup berbagai kasus penggunaan. Beberapa dibuat khusus untuk Python, sementara yang lain adalah IDE multibahasa yang mendukung Python melalui add-on atau telah ditingkatkan dengan ekstensi khusus Python.

Meskipun banyak pengembang berkomitmen untuk menjadikan IDE mereka sebagai solusi universal, itu tergantung pada kebutuhan dan standar pengembang Python yang berbeda.

Address

West Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Datacademy posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Datacademy:

Share