30/06/2021
JABATAN STRUKTURAL DAN EXPERTISE FUNGSIONAL
Sebuah artikel mengenai pentingnya punya skill spesifik
Oleh Ferizal Ramli
----------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika aku diskusi dengan seorang sahabatku yang blio adalah Dosen tapi juga Komisaris (ingat klo Dosen boleh merangkap komisaris). Aku amat setuju sahabatku itu jadi komisaris karena memang integritas full honest & honor serta kompetensinya mumpuni untuk jadi komisaris membedah anatomi perusahaan. Nah, karena posisinya komisaris maka aku butuh advice-nya.
Kataku: aku dapat tawaran jadi CFO atau COO untuk sebuah Perusahaan di Indonesia yang ASSET-NYA trilyun-nan. Aku butuh berrdiskusi dengan orang yang kuanggap paham Indonesia that I can put trust on his advice. Tapi aku malah dapat pengetahuan menarik dari mindset dan caranya bereaksi…
Nah, value percakapanku ku-share disini:
Aku bilang “kegalauanku”, iya Posisi CFO atau COO itu amat keren prestisius tapi mau berapa lama? Apakah akan sustain? Lagian berarti aku harus pindah habis-habisan dari Jerman ke Indonesia. Bagaimana fasilitas sekolah anak2ku? Bagaimana fasilitas kesehatannya? Bagaimana dengan jaminan hari tua? Bagaimana dengan… dll, dll.
Catatan: Secara gaji memang ada selisih beda signifikan antara posisiku di Jerman dengan tawaran di Indonesia, tapi gaji yang kuterima saat ini toh di Jerman juga amat lebih dari cukup. Paling tidak jika standard Subsidi Asuransi Kesehatan Jerman sebagai “border”-nya, maka asuransi kesehatanku sudah lama sekali ndak dapat hak subsidi sama sekali dari pemerintah Jerman, dan income-ku jauh diatas “border” itu.
Selain itu kan di Jerman kita sustain, aman dan terjamin. Gaji juga selalu naik. Tidak ada kasus gaji tiba-tiba besar, tapi bisa-bisa besok pagi di-FIRE. Tidak lazim disini rejeki suatu Ketika hujan lebat deras berlebihan, lalu tiba-tiba panceklik kerontang yang amat gersang.
Jadi agar aku bisa ambil decision akurat, aku butuh saran professional dari sahabatku yang komisaris dan intelektual brilyant itu.
Lalu Sahabatku tanya: “Saiki neng Jerman ngopo kowe Fer?” Kujawab: “Aku Principal Consultant”. Lalu dia bilang, wah mending ambil COO atau CFO neng Indonesia. Itu neng Jerman kan cuma kerjaan fungsional teknis toh? Sepiro sih reward-nya klo cuma pekerjaan fungsional teknis.
Aha, aku dapat pointnya sekarang. Rupanya di kita (Indonesia) Jenjang Karir Fungsional itu ndak dapat respek. Akibatnya, tradisi orang yang menjadi MAISTRO di bidangnya tidak terbangun. Orang berebut ke Jalur Managerial: jadi Direktur atau Komisaris. Akibatnya, tradisi kualitas orang yang jago di process chain inovasi tidak terbangun.
Sahabatku di Indonesia ndak punya clue sama sekali tentang apa arti reward expert di Jerman. Sahabatku mikirnya seperti Indonesia. Di Fungsional teknis di Indonesia ternyata memang reward-nya “getir bingits”. Orang jadi pada berebut ke Struktural sikut-sikutan. Padahal para Ekspert di Fungsional teknis lah kunci dari tradisi kualitas world class.
Kelak aku tahu gaji Fungsional teknis seperti ku di Indonesia paling 20-35 juta saja per bulan, amat sedikit dan langka yang nawarkan sampai 50 jeti. Bandingkan dengan Gaji seorang Direkturnya, itu tidak sebanding sama sekali.
Ingat yah Biaya Hidup di Jerman JAUH lebih murah dari di Jakarta bahkan dari di Yogya saja murahan di Jerman, dengan catatan: KUALITAS hidupnya sama. Jelas mringis getir lah klo perbandingannya funsional ekspert di Indonesia (secara umum) dengan Gaji Direkturnya.
Sementara jika kita di Struktural Corporate Gajinya bisa ratusan juta belum bonusnya. Ini sebabnya TIDAK ada yang mau konsisten di jenjang Fungsional sebagai ekspert menjadi MAISTRO di bidangnya.
Hanya apa kerugiannya jika Perusahaan di negara kita TIDAK punya tradisi membangun jenjang fungsional terhormat? Akan berlaku pameo: „Jack of all Trades, Master of None!”. Tradisi kualitas World Class tidak akan pernah terbentuk.
Yang ada adalah cuma bisa bisa sedikit-sedikit secara general, lalu buat intrik berebut ramai-ramai sikut2an untuk meraih posisi structural yang memang amat sedikit dalam organisasi. Para Professional dan Ekspert bukan sibuk berkarya, tapi sibuk membuat intrik “Office Management” dan “bangun relasi” untuk menduduki posisi manajerial.
Ini lah kelemahan paling mendasar kenapa akhirnya nyaris tidak ada perusahaan Indonesia yang World Class. Yang ada adalah Palugada yang artinya “Jack of all Trades, Master of None!”
Ini juga rupanya (menurutku), yang membuat Para Pembicara Motivator menjadi amat laku. Dikarenakan mereka men-suggesti dengan cara: „Anda hebat, anda super, anda memiliki kecerdasan spiritual untuk bisa menduduki jabatan itu!“. Sugesti-2 seperti itu dibutuhkan untuk berebut posisi manajerial yang penuh intrik. Kadang butuh dhukun bahkan ke Bukit Kemukus segala :P
Klo disini Pembicara Motivator ra payu blass. Kita tahu para motivator itu tidak punya ekspertise fungsional teknis, kecuali yah memotivasi untuk sesuatu yang sesungguhnya dia juga tidak tahu. Sesungguhnya yang dibutuhkan bukan motivator tapi para mentor berpengalaman yang mendidik dan mentransfer serta mengkader seorang yang Junior menjadi Ekspert Word Class di bidangnya melalui bersama berproses menghasilkan inovasi dan optimisasi sebuah full life process chain sebuah industry!
Sekarang kembali dengan sikapku. Padaku kuputuskan tetap berkarir di Jerman saja. Gajinya terjamin toh lebih dari cukup dan kontinyu sampai umur 65 tahun selalu naik, selama ndak buat kesalahan fatal. Sekolah anak-anakku terjamin amat baik, kesehatan terjamin amat baik, hari tua dengan semua fasilitas asuransi yang sudah kusiapkan terjamin amat baik.
Klo pindah ke Indonesia, untuk sekolah yang sekualitas putriku saat ini gratis di Jerman maka berkaca dengan biaya sekolah Maudi Ayunda saat Sekolah Menengah bisa 21 juta per bulan. Klo 2 anak berarti 42 juta per bulan baru biaya sekolah :D . Sementara disini (Jerman) cukup bayar Pajak maka semuanya gratis. Bayangkan sudah biaya kuliah semahal itu tiba-tiba diberhentikan jadi CFO atau COO? Apa ndak mrenges?
Sementara untuk mengabdi tanah air yah tinggal kuputuskan ambil Posisi Strategis di Universitas di Indonesia dan Universitas di Jerman untuk membangun kerja sama Jerman-Indonesia TANPA minta gaji sama sekali. Non financial compensation at all. Bekerja dengan kehormatan, ehrenamtliche Arbeit.
Jadi, bisa tetap berkarir di Jerman tapi bisa memberikan kontribusi sebisanya buat Indonesia tanpa sama sekali dibayar, karena hidupnya biar dibayar Jerman aja…
Ferizal Ramli