23/08/2016
ANEKDOT: kata gus mus tentang rokok
Gus Mus Pada suatu hari konon seorang wanita
aktivis anti tembakau berkunjung ke KH. Mustafa
‘Gus Mus’ Bisri dengan maksud meminta fatwa
tentang bahaya rokok. “Iya, rokok memang
berbahaya. Saya setuju sekali sama sampeyan,
Mba,” kata Gus Mus mantap. Wajah aktivis LSM
anti tembakau yang bertemu siang itu pun
langsung berbinar. “Begini…” lanjut kiai kelahiran
Rembang itu. “Merokok itu nggak bisa dilakukan
sambil terburu buru. Anda bisa makan, minum,
mandi, bepergian, bahkan bekerja dengan cepat
dan tergesa. Tapi tidak untuk merokok. Merokok
mesti dilakukan seperti hmmm… harus
‘tuma’ninah’ istilahnya, Mba. Sedot, tenang,
pengendapan sesaat… baru nyebul. Isep lagi,
tenang dan pengendapan lagi.. sebul lagi. Begitu
terus- menerus. Lihat, ngudud (merokok) sama
sekali bukan aktivitas yang cocok untuk orang
yang gegabah dan grusa-grusu…” “Lho, maaf,
katanya bahaya, Gus? Kok malah nggak bahas
bahayanya?” Si aktivis tampak tidak sabar.
“Sebentar..,” sambil tersenyum bijak Gus Mus
memberi kode tangan, agar si aktivis diam dulu.
“Untuk menghabiskan satu batang rokok, rata
rata dibutuhkan 20-25 kali hisapan. Kalau
seorang perokok ngudud 10 batang saja setiap
hari, artinya minimal ada 200-250 kali saat jeda
tuma’ninah per harinya. Dua ratus kali setiap
hari, Mba! Nah… bayangkan saja jika ia
menempuh hidup seperti itu belasan atau bahkan
puluhan tahun. Apakah sampeyan yakin yang
demikian itu tidak turut membentuk bangunan
bawah sadar dan karakter pribadinya?”
“Bahayanya, Gus ! Pliss, bahayanya…” “Jadi, ya
nggak usah gampang heran kalau banyak
pemikir muncul dari kalangan perokok. Sebab
perokok itu bukan semacam ‘speedboat’ yang
melesat cepat di permukaan, melainkan lebih
dekat dengan sifat kapal selam. Ia bergerak pelan
namun pasti di kedalaman. Makhluk- makhluk
kapal selam itu terbiasa tenang, jernih
mencermati setiap hal, sekaligus punya daya
imajinasi tinggi. Maka kita tahu ada Einstein,
misalnya. Pastilah ia menemukan Teori Relativitas,
serta teori bahwa semesta berbentuk
melengkung, saat ia leyeh- leyeh sambil kebal-
kebul dengan p**a cangklongnya. Ada juga
Sartre, Albert Camus, Derrida, Sigmund Freud,
yang semuanya menempa ngelmu tuma’ninah-
nya lewat asap tembakau. Contoh lain? Ada
Sukarno, Che Guevara, Winston Churcill, hingga
John F. Kennedy. Atau para sastrawan pemikir,
mulai Rudyard Kipling, Hemingway, Mark Twain,
Pablo Neruda, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta
Toer, yang kesemuanya mereka pun menjalani
metode yang sama. Jadi bisa kita simpulkan
bahwa…”
“Stop ! Stop ! Please, Gus. Please ! I said: ba-ha-
ya ! Please explain the ba-haya !!!” “Hehe, iya-iya,
Mba… Maaf, saya tegaskan bahwa rokok memang
berbahaya.”
Gus Mus menghela nafas sesaat. “Sebab… yang
paling berbahaya dari seorang manusia bukanlah
paru-paru atau jantungnya, melainkan pikiran-
pikirannya