02/02/2019
JATUH CINTA PADA LAWAN JENIS? APA YANG HARUS DILAKUKAN?
Islam sendiri memandang bahwa jatuh cinta kepada lawan jenis terutama yang bukan mahram merupakan hal yang dilarang. Mengapa? Sebab dari hal tersebut dapat memunculkan berbagai tindakan yang kemungkinan besar mengarah pada perbuatan dosa.
ATURAN ISLAM SEDERHANA
1. Bila cinta, datangi walinya dan menikahlah
2. Bila belum siap, persiapkanlah dirimu dalam DIAM
*kalo saya ga pacaran, gimana kenalannya?
Lewat TA’ARUF: dilakukan hanya bagi yg sudah siap utk menikah dalam waktu SEDEKAT2NYA. Karena kalau terlalu lama, maksiat bisa terjadi.
Bertemu hanya didampingi wali dan tiada khalwat dlm pertemuan itu, jadi hanya utk saling mengenal. Background keluarganya, pekerjaannya, segala macam. Jadi kekurangan dan kelebihan asli kita benar2 dibuka utk kesepakatan kedua belah pihak.
Kalau sudah cocok ya langsung nikah. (Tenang.. rasa cinta pasti akan bersemi setelah menikah. Apalagi kalau cinta nya karena Allah)
Jika ditemukan ketidakcocokan, maka ta’aruf bisa dibatalkan. Tentunya dg kerelaan hati dan yakin bahwa jalan ketetapan yg Allah beri kpd kita pasti baik.
BEDA banget kan sama pacaran?
Kalau pacaran sangat mengarah kekhalwat, dan pakai “topeng” jadi maunya keliatan bagusnya doang.
Nah, ada beberapa cara menyukai lawan jenis secara islami.
1. Cobalah tidak membuka keran hijab keakraban. Ini berfungsi agar kamu tidak memerangkapkan dirimu sendiri ke dalam urusan yang nantinya dapat menjerumuskan kamu ke masalah yang lebih ribet. Bisa dari hal-hal yang terlihat kecil (atau bahkan “islami”), tapi efeknya sangat panjang dan besar. Misalnya, kirim salam. Jika dikirimkan salam merespon, maka hubungan kalian akan lebih akrab satu tingkat. Percayalah, ini kerjaan setan. Pada akhirnya, kamu akan “ketagihan” akan komunikasi yang lebih intens dengan si dia. Kalau sudah begini, apa yang menjamin hati kamu akan tetap bersih ? yang ada di hati kamu akan di penuhi namanya, merindukannya, menginginkannya, membutuhkannya, sehingga menuntut dia harus jadi milik mu. Adapun poin-poin lain, bila harus dikonkretkan, dapat berupa sms tausiyah / missed call untuk bangun tahajud. Kesannya islami, tapi hati kamu pasti berbunga-bunga bila kamu / lawan jenis kamu yang melakukannya.
2. Jaga jarak. Jangan sampai terlalu dekat. Kalau tidak ada urusan, tidak usah membuka komunikasi. Bicaralah untuk urusan yang penting-penting saja. Itupun harus langsung, tidak berputar-putar, dan intonasi bicara jangan dibuat-buat.
3. Bila cinta terlanjur ada, maka obatilah dengan menyibukan diri. Cinta akan semakin bergejolak bila kamu menyediakan ruang untuk dia bergejolak di ruang kosong dalam kepala kamu. Tapi, kalau tidak ada slot di kepala kamu untuk dia, justru habis untuk memikirkan pelajaran, tanggung jawab organisasi, atau mungkin masalah nafkah (banyak lohh remaja yang sudah berpenghasilan alias mandiri jaman sekarang), maka dengan sendirinya cinta kamu akan menjadi urusan nomor dua, tiga, atau mungkin nomor terakhir. Selama bukan nomor satu, Insya Allah kamu akan baik-baik saja.
4. Tambah ilmu kamu tentang cinta. Pada perjalanan banyak pencinta, mereka jadi lebih bijak menyikapi cinta ketika mereka mendapatkan wawasan tentang cinta dari Al-Qur’an, hadits, ucapan-ucapan bijak para ulama, dan sebagainya. Mereka jadi tak gampang terkecoh oleh bujuk rayu cinta, sebab mereka mampu mendahulukan akal sebelum rasa logika sebelum perasaan. Kejayaan iman atau nafsu.
5. Bersahabatlah dengan orang-orang bijak. Mereka mampu mengingatkan kamu ketika kamu lemah. Mereka mampu menemani kamu dalam menghadapi problematika cinta. Mereka tak akan menjerumuskan kamu ke neraka dengan memprovokasi kamu untuk melepas kekang atas cinta. Mereka selalu mengingatkan kamu pentingnya berkorban untuk cinta yang lebih besar. Cinta Hakiki. Cinta Ilahi Rabbi.
6. Berdoalah. Cinta adalah ciptaan Allah. Dia yang menguasainya. Dia yang mampu mencabut / menyemainya dalam hati kita. Kepada-Nya kita bertawakal, berserah diri, dan berjuang. Yaa, kita harus berjuang menjaga kemurnian cinta hingga tiba waktunya cinta dirangkai dalam lembaga pernikahan.