Rampak Naong

Rampak Naong mari maju

Pengen Ketawa Tapi Ini Bukan Stand-up Comedy **Perut saya sakit melihat ini.**Bukan karena emosi kosong. Bukan karena ke...
22/02/2026

Pengen Ketawa Tapi Ini Bukan Stand-up Comedy

**Perut saya sakit melihat ini.**
Bukan karena emosi kosong. Bukan karena kebencian. Tapi karena logika sederhana saja terasa seperti ditampar.

Ketika kebijakan sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung di Amerika Serikat, **Donald Trump** justru menggulirkan tarif impor seragam 10 persen untuk seluruh negara. Artinya apa? Artinya semua barang dari seluruh dunia yang masuk ke Amerika dikenakan angka yang sama: 10 persen. Tidak pilih kasih. Tidak perlu negosiasi khusus. Tidak perlu drama diplomasi.

Lalu di mana posisi Indonesia?

Indonesia sebelumnya menyepakati tarif 19 persen dalam sebuah kesepakatan dagang yang dipresentasikan sebagai capaian diplomasi. Angka itu dipamerkan. Disebut sebagai hasil kerja keras. Diberi label “keberhasilan”. Seolah-olah itu kemenangan strategis.

Tapi ketika kemudian muncul tarif seragam 10 persen untuk semua negara, publik wajar bertanya: apa sebenarnya yang kita dapat?

Kalau semua negara cukup membayar 10 persen tanpa harus melakukan negosiasi khusus, tanpa harus “deal” tertentu, lalu mengapa Indonesia justru lebih dulu mengikat diri pada angka 19 persen?

Di sini logika publik mulai bekerja.

Ini bukan soal benci atau s**a pada pemerintah. Ini soal hitung-hitungan sederhana. Kalau A bisa dapat 10, kenapa kita sepakat di 19? Kalau yang tidak bernegosiasi pun akhirnya dapat 10, lalu di mana nilai tawar kita? Apa yang sebenarnya dinegosiasikan?

Pernyataan dalam konferensi pers yang menyebut “tarif 19 persen adalah hasil diplomasi” kini berubah menjadi bahan sorotan. Bukan karena publik anti-diplomasi. Tapi karena publik tidak ingin dibodohi oleh narasi.

Arti dari semua ini sederhana:
Ada kemungkinan keputusan diambil terlalu cepat.
Ada kemungkinan strategi tidak membaca arah kebijakan global.
Atau lebih parah, ada yang terburu-buru ingin mengklaim kemenangan sebelum permainan benar-benar selesai.

Kritik tajam itu bukan penghinaan. Kritik tajam itu tanda masyarakat masih peduli. Just

Ungkapan "hujan membawa berkah" benar-benar dialami Nuryasin, guru sekaligus Kepala SDN Pejagan IV, Madura. Saat members...
08/02/2026

Ungkapan "hujan membawa berkah" benar-benar dialami Nuryasin, guru sekaligus Kepala SDN Pejagan IV, Madura. Saat membersihkan halaman sekolah yang becek akibat hujan dengan menggali tanah, ia tak sengaja menemukan gerabah kuno berisi koin-koin peninggalan VOC. Koin perak bertahun 1746-1760 hingga era Hindia Belanda itu memiliki berat total sekitar 13 kilogram dan sempat menggemparkan publik karena nilainya yang ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Meski berpeluang menjadi miliarder, Nuryasin memilih menyerahkan seluruh temuan tersebut kepada pemerintah dan museum demi kepentingan sejarah. Keputusannya membuat namanya dikenang bukan sebagai orang kaya mendadak, melainkan penemu harta karun bersejarah yang membuka kembali jejak transaksi masyarakat Nusantara di masa VOC. Penemuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa koin emas dan perak pernah menjadi alat transaksi utama, sebelum akhirnya tinggal sebagai artefak berharga yang mengungkap cerita masa lalu.

13/01/2026

Ternyata pertolongan terakhir tidak selalu menyelamatkan

Address

Jalan Nangka Baru
Sleman
567454

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rampak Naong posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share