Dairi Pos

Dairi Pos 'Dairi Pos' adalah PERS Tanah Air.

Karya jurnalistiknya, menjadi referensi warga akar rumput sbg obat jitu utk tangkal 'Hoax'. hadir dgn berbagai platform media dan beragam konten yg terjadi disekitar kta, unik, langka, menghibur dan beri faedah.

02/05/2026

Sdh Berhari2, Polisi blum Tangkap Pelaku Pembunuhan Lansia di Rumbai.


LOKER !!!Siapkan Dirimu Anak Muda! Jadi Manager; Bangun Desa dan Kelurahan!!!Dairi Pos - Pemerintah memberikan kesempata...
17/04/2026

LOKER !!!

Siapkan Dirimu Anak Muda! Jadi Manager; Bangun Desa dan Kelurahan!!!

Dairi Pos - Pemerintah memberikan kesempatan emas bagi para kaum muda untuk memimpin dan mengelola Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) serta Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) se Indonesia.

Hal ini ditandai dengan dibukanya
proses rekrutmen melalui Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) bagi 35.476 orang yang nantinya akan mengisi jabatan sebagai Manager Koperasi di tiap-tiap desa atau kelurahan. Nantinya, mereka yang lolos seleksi akan menjadi pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) selama dua tahun sesuai skema program untuk penguatan operasional.

Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus Ketua Satuan Tugas Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, Zulkifli Hasan, mengatakan bahwa rekrutmen ini bertujuan untuk mencari sosok-sosok yang kompeten dalam mengelola KDKMP dan KNMP.

“Pemerintah, melalui Panitia Seleksi Nasional SDM PHTC, akan membuka rekrutmen untuk putra-putri terbaik Indonesia untuk ikut serta dalam pengelolaan Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Zulkifli dalam konferensi pers, Selasa (15/4).

Secara rinci, ia menjelaskan bahwa 35.476 posisi tersebut terdiri dari 30.000 lowongan untuk posisi manajer koperasi KDKMP, yang nantinya berada di bawah PT Agrinas Pangan Nusantara.

Sementara itu, 5.476 lowongan sisanya dibuka untuk posisi pegawai KNMP, dengan status kepegawaian di bawah PT Agrinas Jaladri Nusantara.

Dalam proses rekrutmen tersebut, pemerintah akan menjalankan seleksi terbuka. Pendaftaran telah dibuka sejak hari Rabu, 15 April 2026 kemarin hingga 24 April 2026 nanti. Dan perekrutan ini dapat langsung diakses melalui situs phtc.panselnas.go.id.

Zulkifli menambahkan, seleksi ini terbuka bagi lulusan D3, D4, dan S1 dari semua jurusan, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75 serta usia maksimal 35 tahun.

“Selain itu, kami tegaskan bahwa seluruh tahapan seleksi ini tidak dipungut biaya apapun,” lanjut dia. Ia menegaskan bahwa pendaftaran hanya dapat dilakukan melalui situs resmi tersebut dan memastikan proses seleksi akan berlangsung secara adil.

Zulkifli juga mengimbau calon pelamar untuk mewaspadai berbagai bentuk penipuan yang menjanjikan kelulusan tanpa melalui proses seleksi resmi.* (red.)

17/04/2026

Kasih Info d**g mas e; Penjual Kelinci Lokal di kota Berastagi.
🐰🐰🐰

OPiNI - DaiRIPos RIP atau DOA?MENGGUGAT BUDAYA INSTAN DALAM UNGKAPAN DUKACITAOleh: Febry Silaban (Pengamat Bahasa dan Bu...
28/03/2026

OPiNI - DaiRIPos

RIP atau DOA?
MENGGUGAT BUDAYA INSTAN DALAM UNGKAPAN DUKACITA

Oleh: Febry Silaban (Pengamat Bahasa dan Budaya)

Pada era serbacepat ini, bahkan dukacita pun sering kali ikut dipercepat. Ketika kabar meninggalnya seseorang tersebar di grup WhatsApp atau media sosial, respons yang sering muncul adalah tiga huruf kapital yang dingin: “RIP”.

Singkat, praktis, dan seolah cukup mewakili empati. Sebuah akronim yang telah menjadi semacam "stempel" otomatis. Bahkan, ada yang hanya mengirimkan stiker bertuliskan huruf-huruf tersebut dengan latar belakang bunga mawar atau lilin. Bukan lagi doa tulus, melainkan rutinitas kosong yang mirip spam.

Namun, di balik kemudahan itu, tersembunyi sebuah pertanyaan penting: apakah kita masih memahami makna terdalam dari ungkapan tersebut, atau justru sedang mengalami “devaluasi” makna yang perlahan mengosongkan kedalaman spiritualnya?

Pemahaman dalam Bahasa Latin

“RIP” sebenarnya bukanlah berasal dari singkatan frase bahasa Inggris (Rest in Peace), melainkan dari bahasa Latin: "Requiescat In Pace." Secara harfiah, ungkapan ini berarti “semoga ia beristirahat dalam damai.” Ini bukan sekadar ungkapan sopan santun sosial, melainkan sebuah doa.

Dalam gramatika Latin, "requiescat" adalah bentuk kata kerja "requiescere" dalam modus coniunctivus orang ketiga tunggal. Kata kerja "requiescere" artinya “beristirahat” atau "bertenang", gabungan dari “re-“ (kembali) dan “quiescere” (diam, tenang).

Dalam bahasa Latin, modus coniunctivus ini sering digunakan untuk menyatakan pengandaian, harapan, doa, atau kemungkinan. Jadi, "requiescat" bukanlah pernyataan fakta (“ia beristirahat”), melainkan sebuah harapan yang dipanjatkan (“semoga ia beristirahat”). Kemudian, "in pace" berarti “dalam damai”, dengan "pace" sebagai bentuk ablativus dari kata "pax" (damai).

Maka, "requiescat in pace" adalah sebuah kalimat doa yang aktif. Gabungan ini menegaskan bahwa yang diinginkan bukan sekadar istirahat, tetapi istirahat dalam damai ilahi, damai yang melampaui segala pengertian manusia.

Singkatan ini pertama kali ditemukan di batu nisan pada abad ke-5 dan menjadi umum di pemakaman Kristiani pada abad ke-18.

Doa dalam Tradisi Katolik

Akar doa ini sangatlah dalam, jauh sebelum ia menjadi populer di media sosial. Dalam tradisi Gereja Katolik, kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal. Gereja mengajarkan bahwa kita bisa berdoa untuk orang mati, terutama yang sedang dalam "purgatorium" (api penyucian), agar dibersihkan dan mencapai penglihatan bahagia akan Allah.

Doa untuk arwah ini memiliki fondasi yang kokoh, salah satunya dalam kitab 2 Makabe (12:45), yang mengajarkan tentang kesalehan mendoakan orang mati.

Jauh kemudian, dalam liturgi, frasa ini diabadikan dalam himne agung yang sering dinyanyikan dalam Misa Requiem: "Requiem aeternam dona eis, Domine, et lux perpetua luceat eis" (Ya, Tuhan, berikanlah mereka istirahat abadi, dan semoga cahaya kekal menerangi mereka).

Konsep "istirahat" atau "damai" ini bukanlah sekadar ketiadaan aktivitas. Dalam pemahaman eskatologis Kristen, "istirahat" ini merujuk pada puncak kepenuhan hidup bersama Allah, seperti yang digambarkan dalam kitab Wahyu (14:13): "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan... supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka."

Jadi, "requiescat in pace" adalah sebuah seruan iman yang mendalam. Ia adalah pengakuan bahwa hidup di dunia ini adalah sebuah peziarahan yang penuh dengan jerih lelah, dan kematian adalah gerbang menuju peristirahatan abadi di pangkuan Sang Pencipta.

Masalahnya, dalam praktik sehari-hari, makna yang dalam ini sering kali menguap. “RIP” menjadi sekadar simbol digital. Ia diketik cepat, bahkan kadang digantikan dengan stiker atau emoji. Tidak jarang p**a ia dikirim tanpa konteks iman yang jelas. Dalam beberapa kasus, orang yang mengucapkannya bahkan tidak mengetahui bahwa itu adalah doa, apalagi memahami kedalaman teologisnya.

Di sinilah letak ironi yang menyedihkan. Sebuah doa yang lahir dari tradisi iman yang kaya justru direduksi menjadi sekadar formalitas sosial. Kita tidak lagi “mendoakan”, melainkan sekadar “merespons”.

Orang mengetik "RIP" bukan karena mereka teringat akan kisah kepahlawanan para martir Makabe atau merenungkan misteri agung dalam Wahyu, melainkan karena sekadar ingin terlihat peduli, ingin menunjukkan bahwa mereka hadir dan mengetahui kabar tersebut.

Sering kali, itu adalah gerakan refleks. Kita melihat banyak orang lain melakukannya, maka kita pun ikut-ikutan. Tiga huruf itu menjadi semacam "stempel" atau "paraf" digital yang menandakan bahwa kita telah "menandatangani" buku belasungkawa maya. [Termasuk umat Protestan ikut juga membeo mengetik RIP, tanpa paham ada teologi Katolik dan purgatorium di situ.]

Padahal, dalam iman Katolik, mendoakan orang yang telah meninggal adalah sebuah tindakan kasih yang nyata. Gereja mengajarkan bahwa jiwa-jiwa di api penyucian sangat membutuhkan doa kita. Setiap doa, sekecil apa pun, memiliki nilai. Dalam terang ini, "requiescat in pace" bukanlah ungkapan kosong, melainkan sebuah partisipasi dalam karya belas kasih Allah.

Mengembalikan Kemuliaan Ucapan Duka RIP

Oleh karena itu, ada baiknya kita mulai merefleksikan kembali cara kita mengungkapkan dukacita. Ungkapan duka cita bukanlah ajang unjuk eksistensi. Bukan berarti kita harus meninggalkan “RIP” sama sekali, tetapi kita diajak untuk mengembalikannya ke makna asalnya yang mulia. Jika kita menuliskannya, tulislah dengan kesadaran bahwa itu adalah doa.

Lebih dari sekadar kata-kata, sikap hati juga penting. Ketika kita mendengar kabar duka, mungkin kita bisa berhenti sejenak, sebelum jari-jari ini mengetik. Benar-benar berhenti, lalu mendoakan jiwa yang telah berp**ang. Tidak perlu lama, cukup dengan satu doa singkat yang tulus. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi bagian dari arus informasi, tetapi juga menjadi saluran rahmat.

Berikut adalah beberapa langkah kecil untuk memperbaiki kebiasaan kita di media sosial:

✳Hindari Singkatan: Jika punya waktu untuk mengetik panjang di kolom komentar lain, luangkanlah 10 detik lebih lama untuk mengetik: "Beristirahatlah dalam damai Tuhan" atau "Requiescat in Pace."

✳Sertakan Nama: Menyebutkan nama mendiang dalam doa menunjukkan bahwa kita mengingat pribadi tersebut secara personal, bukan sekadar membalas pesan grup.

✳Hening Sejenak: Sebelum menekan tombol kirim, ambillah jeda satu detik untuk membatin: "Tuhan, terimalah hamba-Mu ini." Dengan begitu, ketikan jari kita menjadi selaras dengan gerak hati.

Kita hidup pada zaman di mana segala sesuatu cenderung dipermudah dan dipersingkat. Namun, tidak semua hal layak diperlakukan demikian, terutama hal-hal yang menyangkut iman, kehidupan, dan kematian. Dukacita bukan sekadar momen sosial, melainkan ruang sakral di mana kita diingatkan akan kefanaan hidup dan harapan akan kehidupan kekal.

Maka, di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang sering kali menipiskan makna, marilah kita menjadi pribadi yang berani berbeda. Marilah kita kembalikan frasa ini ke tempat asalnya yang mulia: sebagai doa kerendahan hati manusia yang menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah.

Mengembalikan makna “RIP” bukan soal bahasa semata, melainkan soal iman. Ini adalah undangan untuk kembali menyadari bahwa setiap kata yang kita ucapkan, terutama dalam konteks kematian, memiliki bobot spiritual. Ini adalah panggilan untuk tidak membiarkan doa menjadi sekadar slogan.

ERGO

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita tanyakan bukanlah “apa yang harus kita tulis ketika seseorang meninggal”, melainkan “apakah kita sungguh mendoakannya”. Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan oleh mereka yang telah berp**ang bukanlah komentar kita, melainkan doa kita.

RIP lahir dari hati Gereja yang penuh belas kasih, bukan tombol handphone yang dingin. Dengan memahami "requiescat in pace" sebagai doa tulus, kita bisa ubah kebiasaan buruk jadi kesempatan evangelisasi.

Kematian adalah peristiwa yang sangat personal dan sakral. Jangan biarkan ia larut dalam hiruk-pikuk budaya instan yang serba dangkal. Singkatan memang memudahkan komunikasi, tetapi doa tidak pernah mengenal jalan pintas.

Sebab, pada akhirnya, ketika giliran kita yang berbaring di dalam peti mati nanti, tentu kita tidak ingin jiwa kita hanya disapa dengan sebuah singkatan atau stiker "RIP" yang dikirim sambil lalu, bukan? Kita tentu merindukan doa yang tulus, yang diketik dengan hati, bukan sekadar jempol yang mencari praktisnya saja.

Catatan kecil,
Jakarta, 17.03.26
✍️ Febry et Scientia

Kejati Sumut Endus Keterlibatan Ketua DPRD Dairi Atas Dugaan Korupsi BRT DewanDairiPos - Ketua DPRD Kabupaten Dairi, Sab...
25/02/2026

Kejati Sumut Endus Keterlibatan Ketua DPRD Dairi Atas Dugaan Korupsi BRT Dewan

DairiPos - Ketua DPRD Kabupaten Dairi, Sabam Sibarani (SS), yang juga menjabat Ketua DPD II Partai Golkar Dairi, diisukan sedang menjalani pemeriksaan terkait dugaan korupsi Belanja Rumah Tangga (BRT) tahun anggaran 2022-2024 di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu).

Berdasarkan isu yang beredar, SS diperiksa di Kejatisu atas pengaduan masyarakat (Dumas) terkait dugaan tindak pidana korupsi atau penyalahgunaan wewenang yang merugikan keuangan negara, termasuk memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi.

Isu menyebutkan SS telah diperiksa Kejatisu sebanyak tiga kali, dengan pemeriksaan terakhir dilakukan pada Januari 2026.

Dugaan penyalahgunaan mencakup pemalsuan dan penyimpangan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) kegiatan BRT, termasuk belanja tunjangan komunikasi pimpinan dan anggota DPRD, tunjangan perumahan, transportasi, jasa tenaga pelayan umum, belanja natura, belanja bimbingan teknis, dan perjalanan dinas, selama periode 2022-2024. (***)

***Dikutip dari berbagai sumber.

Siswa SMK HKBP Sidikalang Yang Makan Menu Hidangan MBG Keracunan! Informasi yang diterima hingga saat ini, jumlah angka ...
10/02/2026

Siswa SMK HKBP Sidikalang Yang Makan Menu Hidangan MBG Keracunan!

Informasi yang diterima hingga saat ini, jumlah angka korban capai Ratusan. Penanganan medis yang dilakukan terhadap banyaknya korban siswa harus bebagai unit fasilitas Kesehatan yang ada di Kota Sidikalang, diantaranya di RSUD Sidikalang dan berbagai puskesmas.

Untuk sementara SPPG sebagai pemasok MBG untuk sekolah tersebut, SPPG Sidikalang 3 untuk sementara dihentikan untuk penanganan lebih lanjut dari pihak terkait.

Penggalan peristiwa. Dalam kasus ini, ada rentetan dua peristiwa hukum pidana. Peristiwa hukum pidana pertama ada kasus ...
09/02/2026

Penggalan peristiwa.

Dalam kasus ini, ada rentetan dua peristiwa hukum pidana. Peristiwa hukum pidana pertama ada kasus pencurian.

Peristiwa hukum kedua adalah kasus penganiayaan. Dalam peristiwa ini, korban pencurian bersama rekan-rekannya melakukan penangkapan sendiri terhadap para pelaku di Hotel Crystal. Dalam proses tersebut terjadi tindakan kekerasan berupa pemukulan secara bersama-sama.

Dairipos - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merespons video viral kayu gelond**gan hanyut terseret banjir di Sumatera Ut...
29/11/2025

Dairipos - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merespons video viral kayu gelond**gan hanyut terseret banjir di Sumatera Utara (Sumut) menyebut kemungkinan besar berasal dari Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) yang berada di areal penggunaan lain (APL).

"Kita deteksi bahwa itu dari PHAT di APL. PHAT adalah Pemegang Hak Atas Tanah. Di area penebangan yang kita deteksi dari PHAT itu di APL, memang secara mekanisme untuk kayu-kayu yang tumbuh alami itu mengikuti regulasi kehutanan dalam hal ini adalah SIPU, Sistem Informasi Penataan Hasil Hutan," kata Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut Dwi Januanto Nugroho, Jumat (28/11/2025)

Dengan Bank Mandiri – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar berat mereka! 🎉
01/11/2025

Dengan Bank Mandiri – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar berat mereka! 🎉

Address

Sidikalang
22211

Telephone

+6281287161902

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dairi Pos posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Dairi Pos:

Share