12/08/2014
KaDeWe.Net: Warnet pertama di Indonesia didirikan di Bogor oleh
Michael Sunggiardi pada tahun 1996.
Pada awalnya, seperti diceritakan
pada Bagian Pertama tulisan ini,
Michael Sunggiardi merupakan
perintis perkembangan computer di wilayah Bogor. Sebagai pengusaha
computer, Ia juga membantu
membangun awareness masyarakat
~khususnya di daerah Bogor~
terhadap computer, dimulai dari para
kliennya dan kemudian peserta kursus computer yang ia ajar serta
anggota klub komputer Pangkalan
PC, yang terdiri dari beberapa
peserta kursus yang ia ajar serta
masyarakat awam yang memiliki
ketertarikan pada komputer. Awal keterlibatan Michael Sunggiardi
dalam dunia internet dimulai tahun
1994, ketika fund manager AT&T,
sebuah perusahaan komputer yang
berbasis di New York merupakan
salah satu pemasok komputer di Indonesia, datang ke Indonesia
untuk melihat perkembangan
pemasaran produknya. Ketika itu ia
mengusulkan untuk membuka
jaringan internet di Indonesia.
Michael ketika itu tidak memiliki bayangan, pasar mana yang akan
tertarik dengan internet maupun
pihak mana yang harus ia hubungi
untuk memulai bisnis internet,
apakah itu Telkom atau pihak lain.
Namun jika akan memulai dari Bogor, ia merasa bisa
mewujudkannya karena ia
mengenal pangsa pasar wilayah
Bogor. "...saya bilang, saya gak tahu market
kan, satu, kemudian gak tahu
negosiasi musti sama siapa waktu itu
sama Telkom segala macem, Cuma
kalau mau mulai dari Bogor sih
boleh, saya bilang. Karena di Bogor I know everybody di Bogor, saya tahu
semua di Bogor, kenapa gak mulai di
Bogor aja..." Fund Manager AT&T kemudian
menanyakan berapa jumlah investasi
yang diperlukan. Namun Michael
tetap belum memiliki gambaran yang
jelas, karena saat itu ia belum
memiliki banyak pengetahuan tentang ISP. Namun ia pernah
memiliki pengalaman dengan
Bulletin Board System (BBS), bersama
dengan Jim Filgo, ketika mereka
menjadi konsultan bagi seorang
pemilik toko komputer di Jakarta, Computeria, bernama C C Yan. Ketika
itu Yan dan Jim Filgo
memperkenalkan BBS di Jakarta, dan
Michael sendiri menyebarkan BBS di
Bogor. Akhirnya Michael berangkat ke
Malaysia karena AT&T juga memiliki
kantor cabang regional disana. Ia
mempelajari mengenai ISP pada staff
disana, dan ketika kembali ke Bogor,
ia menyatakan siap untuk mendirikan ISP, dengan perkiraan
investasi US$ 20.000,-. Pihak TNT
kemudian menyarankan Michael
untuk mencari dan mempersiapkan
berbagai hal jika ia memang akan
mendirikan ISP, karena tidak akan mudah bagi mereka untuk
mengeluarkan dana yang
dibutuhkan. Salah satunya, ia harus
mempersiapkan infrastruktur, seperti
saluran telepon. Maka kemudian ia
datang ke Mahmur Suriadiredja - Kandatel Telkom di Bogor. Ketika
mengatakan bahwa ia memerlukan
sepuluh saluran telepon untuk
internet di Suryakencana (tempat
toko komputernya berada), ia
mendapat jawaban bahwa saat itu tidak ada saluran telepon (baru)
yang tersedia untuk daerah tersebut.
Ia bahkan disarankan untuk mencari
daerah lain yang masih memiliki
saluran telepon baru.. Saat yang bersamaan, seorang
kawannya Sudjaja Wira yang baru
datang dari Jerman, memiliki teman
baik salah satu pemegang saham
Indonet di Jakarta. Melalui kawannya
ini, Michael kemudian mengontak orang tersebut dan akhirnya mereka
bertemu dan membicarakan
kemungkinan kerjasama untuk
memperluas jaringan Indonet ke
Bogor. Mengenai tempat, mereka
akhirnya memilih daerah Kebun Raya Bogor karena Kandatel Bogor
sempat merekomendasikan daerah
itu untuk memperoleh saluran
telepon baru, karena daerah itu
dekat dengan istana dan tempat
pelaksanaan APEC tahun 1993 lalu, jadi infrastruktur di daerah tersebut
dapat dikatakan bagus. Akhirnya mereka mencapai
kesepakatan, dan tanggal 1 Juli
1995 mulailah dibuka ISP BoNet, dan
pada awal 1996 dibuka "BoNet
Cafe", warnet pertama di Bogor,
sekaligus merupakan yang pertama di Indonesia. Nama 'BoNet' diambil
dari nama ISP yang didirikan di
bogor sebagai afiliasi Indonet
Jakarta, namun kemudian ia
mengganti kata 'cafe' menjadi
'waroeng' atau warung, yang menurutnya tidak memberikan
kesan 'elit', sehingga bisa lebih
menarik perhatian masyarakat dari
kalangan manapun. (Lim, 2005)
BoNet Cafe terletak di tengah Kebun
Raya Bogor, pelanggannya kebanyakan turis asing yang
berkunjung ke Kebun Raya,
sekaligus makan di Cafe Botanicus
(nama cafe-nya). BoNet menyediakan 10 line, dengan
kecepatan/speed 19.200 bps dari
Jakarta. Namun selama 6 bulan
beroperasi, BoNet hanya mendapat
75 orang user. Kondisi ini antara lain
disebabkan sering terputusnya (disconnected) saluran telepon, dan
masih kurangnya pengetahuan
masyarakat Bogor tentang internet.
Hanya mereka yang pernah studi di
luar negeri yang tahu. Akhirnya
mereka memutuskan untuk memperkenalkan internet ke
masyarakat, dengan mengadakan
seminar tentang internet hampir
setiap bulan, dan kadang mereka
juga mengundang orang-orang dari
lembaga penelitian untuk memberi penjelasan tentang internet. Michael
juga menggunakan situs-situs
tertentu sebagai alat promosi. Ia
memanfaatkan situs-situs khusus
untuk mempromosikan penggunaan
internet bagi mereka yang memiliki interest/kebutuhan untuk mencari
data (browsing) di internet. Ia
bahkan pernah menggunakan situs
dengan content "dewasa" seperti
"Pl***oy" sebagai alat pemancing
bagi kalangan yang memiliki tidak memiliki interest khusus semacam itu
atau bagi mereka benar-benar tidak
paham mengenai internet. Cara
tersebut menurutnya paling efektif,
sampai 80% orang yang ditawari
mengakses internet untuk bisa berlangganan situs Pl***oy
kemudian menjadi pengguna jasa
internet.. Tahun 1998, Michael membuat acara
'Arisan Teknologi Informasi' atau
ARTI. 'Arisan' ini dilaksanakan satu
bulan sekali dengan mengundang
tokoh-tokoh teknologi informasi
yang dikenal di Bogor dan berlangsung seperti halnya arisan
pada umumnya, hanya saja acara ini
dilakukan sekaligus mengadakan
seminar internet yang biasa
dilakukan . Acara ini kemudian
meluas seiring bertambahnya peserta 'arisan' dengan orang-orang
dari Jakarta, dan akhirnya
membentuk suatu komunitas baru.
Dengan cara ini p**a, sedikit banyak
ikut membantu sosialisasi internet;
mula-mula pesertanya masih terbatas pada rekanan bisnis Michael,
namun kemudian rekanan2 tersebut
mengajak satu-dua orang relasi/
kenalannya sehingga pada akhirnya
makin banyak p**a orang-orang
yang mengikuti arisan sekaligus acara seminar, sehingga knowledge
mengenai internet sekaligus
kegiatan marketingnya mulai
menyebar, walau memang masih
pada kalangan terbatas. Dalam perkembangan selanjutnya,
sekitar tahun 2000, Michael
Sunggiardi membentuk suatu tim
promosi yang melaksanakan
seminar pengenalan internet, yang
anggotanya diambil dari lulusan SMA atau Sekolah Menengah Kejuruan
Teknik/STM. Tim promosi ini
dibentuk setelah melihat
perkembangan jumlah pendaftar
member internet/warnetnya mulai
menurun. Ketika itu, sampai tahun 2000 sudah terdaftar sampai 2.500
member, dan jumlah itu hanya
bertambah sedikit, mungkin mulai
mencapai titik jenuh karena pangsa
pasar yang memang terbatas untuk
kota seukuran Bogor. Team inilah yang kemudian membantu dalam
road show pengenalan internet dan
warnet. Menurut Michael, road show
ini juga sambil memberi peluang
bisnis bagi pengusaha lokal untuk
memulai bisnis warnet, yang berarti juga meluaskan jaringan internet
bagi masyarakat. Dengan menggunakan fasilitas dari
rekannya, Agustinus Sutandar,
Michael mengadakan perjalanan dari
kota ke kota memperkenalkan
teknologi komputer dan internet,
dimulai dengan memperkenalkan sistem jaringan komputer, lalu
teknologi wanet, Linux, Wireless
LAN, VoIP, RT-RW-Net dan security,
bersama-sama dengan Onno Wurbo selam
ga lebih dari lima tahun.