01/11/2018
KETELEDORAN ORANG TUA,TARUHAN BAGI PENDIDIKAN ANAK
Seperangkat handphone, gadget, mesin komputer, baik berupa netbook, laptop, PC sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan, perangkat ini sudah menjadi kebutuhan yang layak untuk diadakan terlepas dari fungsinya yang terkadang hanya sebagai aksesoris maupun sarana hiburan saja.
Berangkat dari asumsi perlu adanya barang tersebut, apalagi handphone, tingkat pemenuhannya pun berusaha menyesuaikan dengan perkembangan terkini mulai dari spesifikasi hardware, kemampuan network, merk, ketahanan baterai, dan lain-lain, termasuk seberapa tinggi gengsi, juga kondisi keuangan.
Perkembangan ini serasa tidak bisa terbendung, apalagi kebutuhan network yang bisa menghubungkan belahan bumi di sana dan yang di sini. Kemudahan-kemudahan informasi, menjadi daya pemikat yang semakin menjadikan barang-barang tersebut harus ada. Bahkan, tugas anakpun terpenuhi dari perangkat ini.
Nah, berangkat dari sinilah problematika kehidupan juga di mulai. Masa depan menjadi taruhan. Terjadi pergeseran serius nilai-nilai yang terkadang tak bisa dimengerti, gejala apakah ini?. Anak-anak cepat sekali perkembangannya. Mereka tahu banyak hal, tapi tidak sepadan dengan perilaku yang diharapkan. Mereka semakin pintar, tapi kurang bertata krama, tidak tahu norma susila. Apakah demikian yang anda rasakan?.
Dari sini, saya pernah menemukan fakta serius bahwa lebih dari 50 persen anak-anak adalah pengguna game addictive, menonton film p***o, gambar p***o, serta menyebarkan ke teman-teman dekatnya. Jika sudah bermain games mereka lupa waktu. Jika sudah mengenal p***ografi, biasanya mereka s**a membuka handphone dengan semhunyi-sembunyi.
Oke, kita fokus dulu pada konten p***ografi. Pertanyaannya, dari mana mereka memperoleh konten-konten dewasa tersebut?. Dari internet, saling tukar informasi sesama teman, juga dari handphone orang tua. Lho... Kok bisa demikian?. Mereka gampang menekukan itu. Lha memang orang tua menyimpan konten itu kok. Anak-anak tidak bermaksud mencari, tapi tanpa sengaja malah disuguhi. Salah satu icon favorit mereka adalah games dan galeri. Sekali icon galeri di hanphone orang tua mereka sentuh, kiamatlah dunia. Huft...!
Ternyata banyak juga orang tua yang tidak mengetahui bagaimana menyembunyikan konten tersebut. Cara pengamanan masih primitif, masih lugu, yakni dengan menjauhkan dari anak-anak. Padahal, tugas sekolah membutuhkan keberadaan perangkat tersebut. Ada juga yang secara khusus memisahkan antara handphone untuk anak dan orang tua dengan tujuan agar anak membuka handphonnya sendiri. Pada prakteknya, tidaklah sesederhana itu. Selalu ada kesempatan anak menjelajah handphone orang tua.
Orang tua yang lebih maju dan sadar permasalahan di atas, akan memproteksi handphonnya sehingga privasinya terjaga. Diberilah sandi, password, locker untuk menggunakan perangkat milik mereka. Tapi, ternyata ini pun masih rentan bagi anak-anak. Passwordnya sudah bobol. Alias, anak ternyata berhasil mengetahui password orang tua.
Jika memang demikian, lalu orang tua harus bagaimana?.
Menjawab pertanyaan tersebut, saya mengajukan pertanyaan, wahai para orang tua, mengapa harus ada konten dewasa di handphone milik anda?. Jika orang tua tidak menyimpannya, bukankah anak-anak lebih aman?.
Pertanyaan selanjutnya, jika konten dewasa tersebut memang diperlukan, kenapa tidak berusaha memproteksi dari jangkauan anak-anak?. Selain mengunci handphone, berilah proteksi tambahan. Banyak kok app yang bisa digunakan dari playstore. Gunakan aplikasi untuk menyembunyikan foto, video dan beri password aplikasi yang berbeda dengan password untuk masuk handphone. Beberapa contoh app yang bisa dimanfaatkan untuk proteksi file seperti pada gambar yang saya sertakan.
Selain menggunakan app di playstore, sebetulnya anda cukup memanfaatkan hidden/show pada explorer di handphone. Beberapa handphone app galeri bawaannya juga dilengkapi dengan fitur hide/show file. Manfaatkanlah itu. Jangan sampai karena hobi orang tua malah mengorbankan masa depan anak.