A&A - Jasa Pembuatan Website

A&A - Jasa Pembuatan Website Jasa SEO & Pembuatan Situs Website Profesional dan Murah. Website: Toko Online, UKM, Hotel, Properti, Rental Mobil, Koperasi, Organisasi, Forum, Restoran, dsb.

27/09/2026

Pemakaman Dekat Rumah - Cerita Hantu

Bayangan pepohonan di belakang rumah memanjang hingga menutupi sebagian halaman ketika malam mulai turun, membuat jendela kamar belakang terlihat lebih gelap daripada biasanya. Rumahku memang berdiri tepat di depan sebuah pemakaman tua yang hanya dipisahkan pagar rendah. Selama bertahun-tahun aku menganggap penampakan yang sesekali muncul sebagai bagian dari kehidupan di tempat itu, sampai sebuah sosok datang dengan kondisi tubuh yang membuatku hampir tidak sanggup bertahan di dalam rumah.

Namaku Hendra, usiaku empat puluh tiga tahun, dan rumah tersebut sudah kutempati bersama istri serta dua anak sejak lebih dari sepuluh tahun. Letaknya berada di pinggir sebuah desa, sementara pemakaman di belakang rumah sudah digunakan warga sejak puluhan tahun lalu. Kami sudah terbiasa mendengar berbagai cerita aneh dari tetangga mengenai area tersebut.

Pada awal tinggal di sana, aku tidak pernah melihat sesuatu yang aneh. Hanya sesekali terdengar suara benda jatuh dari halaman belakang atau suara orang memanggil dari arah pemakaman. Karena tidak pernah terjadi sesuatu yang membahayakan, aku menganggap semua itu sebagai gangguan biasa.

Namun setelah beberapa tahun, penampakan mulai lebih sering muncul. Kadang aku melihat bayangan seseorang berdiri di dekat pagar ketika lewat tengah malam. Saat lampu belakang dinyalakan, bayangan tersebut selalu menghilang.

Istriku pernah melihat seorang perempuan berdiri di bawah pohon ketika sedang menutup jendela dapur. Perempuan itu mengenakan pakaian panjang dan hanya terlihat dari belakang. Ketika istriku memanggilku, sosok tersebut sudah tidak ada.

Anak sulungku juga pernah mengatakan ada seorang anak kecil duduk di dekat pintu belakang. Ia bahkan menggambarkan pakaian anak itu dengan sangat jelas. Aku memilih tidak memperpanjang pembicaraan agar anak-anak tidak merasa takut berada di rumah.

Beberapa penampakan lainnya hanya muncul sebentar. Ada yang terlihat melewati jendela, ada yang berdiri di dekat pagar, dan ada p**a bayangan seperti seseorang duduk di bawah pohon. Semua kejadian itu selalu berlangsung setelah tengah malam.

Aku kemudian memasang lampu tambahan di halaman belakang. Awalnya keadaan menjadi lebih tenang. Tetapi beberapa minggu kemudian lampu tersebut sering mati sendiri pada jam yang hampir sama.

Aku pernah memeriksa kabelnya dan tidak menemukan kerusakan. Lampu itu bahkan sudah kuganti dengan yang baru. Anehnya, lampu tersebut tetap mati sendiri ketika malam semakin larut.

Sampai akhirnya kejadian paling mengerikan terjadi beberapa hari yang lalu. Malam itu aku sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi ketika terdengar suara sesuatu jatuh dari halaman belakang. Aku mengira kucing masuk ke halaman dan menjatuhkan pot.

Aku mengambil senter lalu berjalan menuju pintu belakang. Istriku sempat melarang karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari. Aku mengatakan hanya ingin memastikan tidak ada hewan yang masuk ke rumah.

Ketika pintu kubuka, halaman terlihat kosong. Angin malam bergerak pelan di antara pohon. Namun dari arah pagar pemakaman terdengar suara seperti seseorang sedang mengerang kesakitan.

Aku langsung menyorotkan senter ke arah suara. Cahaya mengenai sosok seorang lelaki yang berdiri membelakangiku. Tubuhnya terlihat tidak wajar karena salah satu sisi tubuhnya seperti mengalami kerusakan parah.

Aku membeku di tempat. Sosok itu berdiri diam beberapa meter dari pagar. Pakaiannya terlihat robek dan tubuhnya seperti baru mengalami kecelakaan berat.

Aku memanggilnya sekali. Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri sambil menundukkan kepala.

Aku mulai mundur menuju pintu. Saat itulah sosok tersebut perlahan berbalik. Wajahnya terlihat rusak parah pada salah satu sisi, dengan bagian kepala yang tampak seperti mengalami luka berat.

Aku menutup mulut agar tidak berteriak. Tubuhku terasa lemas dan senter hampir terlepas dari tangan. Sosok itu menatapku dengan satu mata yang masih terlihat jelas.

Kemudian ia mengangkat tangannya. Gerakannya sangat lambat dan menunjuk ke arah jalan di samping rumah. Aku tidak mengerti apa maksudnya.

Sosok tersebut lalu membuka mulut. Suaranya terdengar serak dan patah-patah seperti orang yang kesulitan berbicara. Ia hanya mengucapkan satu kata yang tidak begitu jelas.

Aku mundur sampai punggungku menyentuh pintu. Sosok itu tiba-tiba menghilang dari halaman. Tidak ada gerakan apa pun, seolah-olah tubuhnya lenyap dalam satu kedipan.

Aku segera menutup pintu dan mengunci semua kunci. Istriku berlari dari ruang tengah setelah mendengar suara pintu dibanting. Aku menceritakan apa yang kulihat dengan napas yang masih tidak teratur.

Kami tidak berani tidur malam itu. Semua lampu rumah dinyalakan. Sekitar pukul dua, terdengar ketukan dari pintu belakang.

Ketukannya sangat pelan. Tiga kali, lalu berhenti. Beberapa detik kemudian terdengar lagi tiga ketukan.

Aku tidak mendekati pintu. Istriku memegang tanganku sambil membaca doa. Ketukan itu berlangsung hampir sepuluh menit.

Kemudian suara lelaki tadi terdengar dari luar. Ia menyebut sebuah nama yang tidak kukenal. Setelah itu ia berkata bahwa dirinya ingin p**ang.

Aku merasa semakin takut. Suara tersebut terdengar seperti berasal tepat di balik pintu. Namun aku tidak berani membuka atau melihat melalui celah pintu.

Tiba-tiba terdengar suara benda berat jatuh di halaman. Setelah itu semuanya kembali sunyi. Kami tetap berada di ruang tengah sampai pagi.

Keesokan harinya aku pergi ke rumah seorang warga tua yang sudah lama tinggal di desa. Aku menceritakan sosok yang kulihat dan menggambarkan pakaian serta kondisi tubuhnya. Warga tersebut langsung terdiam ketika mendengar ceritaku.

Ia bertanya kapan aku melihat sosok itu. Setelah kusebut waktunya, ia mengatakan bahwa beberapa tahun lalu pernah terjadi kecelakaan fatal di jalan belakang pemakaman.

Seorang lelaki muda meninggal dalam kecelakaan tersebut. Kondisi tubuhnya mengalami kerusakan parah sebelum berhasil dievakuasi. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman yang berada tepat di belakang rumahku.

Aku bertanya apakah lelaki itu memiliki nama tertentu. Warga tersebut menyebut sebuah nama yang ternyata sama dengan nama yang kudengar dari sosok malam sebelumnya.

Aku langsung merasakan tubuhku dingin. Selama ini aku tidak pernah tahu nama orang yang dimakamkan di belakang rumah. Aku juga tidak pernah mendengar cerita kecelakaan tersebut secara lengkap.

Warga itu kemudian mengatakan bahwa keluarga korban pernah tinggal tidak jauh dari rumahku. Menurut cerita, korban mengalami kecelakaan ketika hendak p**ang setelah bekerja pada malam hari. Ia meninggal sebelum sempat bertemu keluarganya.

Aku p**ang dengan perasaan tidak tenang. Sesampainya di rumah, aku melihat pintu belakang masih terkunci seperti semula. Namun di lantai dekat pintu terdapat noda gelap yang tidak ada sebelumnya.

Aku memanggil istriku untuk melihatnya. Kami tidak berani menyentuh benda tersebut. Ketika aku kembali beberapa menit kemudian, noda itu sudah tidak terlihat.

Malam berikutnya kami mencoba tidur lebih awal. Aku sengaja tidak membuka pintu belakang dan semua tirai kututup rapat. Namun sekitar pukul dua belas lewat tiga puluh, terdengar suara dari halaman.

Suara itu bukan ketukan. Kali ini terdengar suara seseorang berjalan perlahan di sekitar rumah. Kemudian berhenti tepat di bawah jendela kamar kami.

Aku menahan napas. Dari balik tirai terdengar suara napas berat. Istriku memegang tanganku dengan sangat kuat.

Aku tidak berani melihat keluar. Namun anak bungsuku tiba-tiba menangis dari kamar sebelah. Ia mengatakan ada seorang lelaki berdiri di dekat tempat tidurnya.

Aku langsung berlari ke kamar anakku. Lampu kamar menyala, tetapi tidak ada siapa pun. Anak itu menunjuk ke sudut ruangan sambil menangis.

Ia mengatakan lelaki tersebut memiliki wajah yang rusak. Aku segera membawa kedua anak ke kamar utama. Malam itu kami semua tidur dalam satu ruangan.

Sekitar pukul tiga dini hari, suara benda berat terdengar dari atap. Kemudian terdengar suara seperti sesuatu merangkak di atas genteng. Suara itu bergerak dari kamar belakang menuju kamar kami.

Aku membaca doa sambil menutup telinga anak-anak. Suara tersebut berhenti tepat di atas kamar. Beberapa detik kemudian terdengar ketukan dari langit-langit.

Ketukan itu perlahan berubah menjadi suara garukan. Istriku mulai menangis. Aku hanya bisa meminta semua orang tetap tenang.

Tiba-tiba lampu kamar mati. Dalam gelap, terdengar suara lelaki tersebut memanggil namanya sendiri. Suaranya terdengar sangat dekat, seolah-olah berada di dalam kamar.

Lampu menyala kembali tanpa kusentuh. Di depan pintu kamar berdiri sosok yang sama. Kali ini kondisinya terlihat lebih jelas daripada malam sebelumnya.

Sebagian tubuhnya tampak rusak akibat kecelakaan, sementara pakaiannya penuh robekan. Salah satu lengannya menggantung dengan posisi tidak wajar. Namun ia hanya berdiri dan menatap kami.

Aku tidak sanggup bergerak. Sosok itu kemudian menunjuk ke arah belakang rumah. Setelah itu ia menunjuk dirinya sendiri.

Aku memberanikan diri berkata bahwa kami tidak tahu apa yang dia inginkan. Sosok itu perlahan membuka mulut dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang tertinggal di tempat kecelakaannya.

Kemudian tubuhnya menghilang. Tidak ada asap, cahaya, atau suara apa pun. Hanya ruangan yang kembali sunyi.

Keesokan paginya aku kembali menemui warga tua tersebut. Ia menyarankan agar aku mencari tahu lokasi kecelakaan korban. Aku bersama beberapa warga kemudian mendatangi jalan di belakang pemakaman.

Di sana kami menemukan sebuah pohon besar yang sudah tua. Warga mengatakan kendaraan korban menabrak pohon tersebut sebelum akhirnya berhenti di dekat pagar pemakaman.

Di sekitar pohon ditemukan sebuah benda logam kecil yang diyakini bagian dari kendaraan lama. Aku tidak menyentuhnya. Anehnya, ketika kami hendak meninggalkan tempat itu, terdengar suara seseorang memanggil namaku.

Kami semua menoleh. Tidak ada siapa pun di sekitar pohon. Salah satu warga kemudian berkata bahwa mungkin korban hanya ingin memastikan keluarganya tidak melupakan kejadian tersebut.

Aku tidak tahu apakah penjelasan itu benar. Yang jelas, setelah kami p**ang, suasana rumah berubah lebih tenang selama beberapa malam. Penampakan tidak muncul dan lampu halaman tidak lagi mati sendiri.

Tetapi ketenangan itu hanya berlangsung sebentar. Pada malam kelima, aku terbangun karena mendengar pintu belakang terbuka perlahan. Ketika kulihat melalui kamera keamanan, halaman tampak kosong.

Aku memutar rekamannya beberapa kali. Pada pukul 02.13, terlihat sosok lelaki dengan kondisi tubuh yang rusak berdiri di dekat pagar. Ia tidak bergerak selama hampir satu menit.

Kemudian sosok tersebut berjalan mendekati rumah. Rekaman kamera tiba-tiba berubah menjadi gelap sebelum sosok itu mencapai pintu. Ketika gambar kembali normal, sosok tersebut sudah tidak terlihat.

Sejak melihat rekaman itu, aku memutuskan tidak lagi tidur di kamar belakang. Rumah tersebut masih kami tempati, tetapi setiap malam kami selalu memastikan pintu belakang terkunci rapat. Yang paling membuatku takut, beberapa kali kamera kembali merekam sosok itu berdiri di dalam rumah, padahal semua pintu dan jendela tetap terkunci dari dalam.

26/09/2026

Mas, Beli Sekotengnya - Cerita Hantu

Cahaya bulan hanya sesekali menembus sela pepohonan ketika roda gerobak sekotengku mulai memasuki jalan kecil menuju perkebunan. Malam itu aku baru selesai salat di masjid desa dan berniat langsung p**ang sebelum udara semakin dingin. Aku sama sekali tidak menduga bahwa suara seorang anak kecil akan memanggilku dari tempat yang tidak mungkin dihuni siapa pun.

Namaku Jaya, usiaku tiga puluh lima tahun pada tahun 2002, dan aku bekerja sebagai penjual sekoteng keliling. Setiap malam aku mendorong gerobak dari satu kampung ke kampung lain sambil membawa minuman jahe hangat, kacang, roti, dan beberapa bahan pelengkap. Rute melewati kebun sudah menjadi bagian dari pekerjaanku karena ada beberapa rumah warga yang berada cukup jauh dari jalan utama.

Malam itu aku sengaja berhenti di masjid untuk menunaikan salat Isya. Setelah selesai berdoa, aku keluar dan melihat jalan desa mulai sepi. Beberapa lampu rumah masih menyala, tetapi sebagian besar warga sudah menutup pintu.

Aku kembali mendorong gerobak menuju kampung sebelah. Jalan yang kulewati perlahan berubah menjadi jalur sempit di antara kebun. Tidak ada kendaraan yang melintas dan hanya suara serangga malam yang terdengar dari kejauhan.

Aku sudah beberapa kali melewati jalan tersebut. Biasanya perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit. Karena sudah hafal rutenya, aku tidak merasa khawatir meskipun malam itu suasananya lebih sunyi daripada biasanya.

Ketika memasuki bagian kebun yang paling gelap, aku mendengar suara anak kecil dari sebelah kiri jalan. Suara itu terdengar jelas dan berkata, "Mas, beli sekotengnya." Aku langsung menghentikan gerobak karena merasa mungkin ada rumah di balik pepohonan.

Aku menoleh ke arah suara tersebut. Tidak terlihat rumah, lampu, ataupun orang yang sedang berdiri di sana. Aku mengira anak itu mungkin berada cukup jauh sehingga tidak terlihat dari jalan.

Aku menjawab, "Iya, mau berapa?" Tidak ada jawaban. Aku kembali bertanya dengan suara sedikit lebih keras, tetapi kebun tetap sunyi.

Beberapa detik kemudian suara anak itu terdengar lagi. "Mas, sini." Kali ini suaranya berasal dari arah yang lebih dalam di antara pepohonan.

Aku merasa aneh karena tidak mungkin ada pembeli masuk ke kebun pada malam hari. Namun sebagai pedagang, aku terbiasa menghampiri pelanggan yang memanggil. Aku mengambil lampu senter kecil dari gerobak dan berjalan beberapa langkah menuju sumber suara.

"Mas, sekotengnya satu." Suara itu terdengar seperti anak laki-laki berusia sekitar tujuh atau delapan tahun. Aku mengarahkan senter ke berbagai arah, tetapi tidak menemukan siapa pun.

Aku kembali ke gerobak. Ketika hendak mengambil gelas, tutup panci sekoteng bergerak sendiri. Aku langsung memegangnya karena takut isinya tumpah.

Aku mencoba menenangkan diri dan menganggap gerakan itu akibat gerobak yang tidak rata. Aku menuangkan sekoteng ke sebuah gelas plastik lalu berdiri menunggu. "Kalau mau beli, keluar saja ke jalan," kataku.

Suara anak itu menjawab dari balik pepohonan. "Aku di sini, Mas." Nadanya terdengar lebih dekat daripada sebelumnya.

Aku menyorotkan senter ke arah suara. Cahaya hanya memperlihatkan batang pohon dan semak yang rapat. Tidak ada seorang pun.

Aku mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Aku mendorong gerobak sedikit menjauh dari tempat tersebut. Namun suara anak itu kembali terdengar dari belakang.

"Mas, jangan pergi." Aku berhenti sejenak, lalu menoleh. Jalan yang baru kulewati tampak kosong.

Aku memutuskan melanjutkan perjalanan. Baru beberapa meter, terdengar bunyi sendok kecil mengenai gelas dari atas gerobak. Ting ting ting, bunyinya teratur seperti seseorang sedang mengaduk minuman.

Aku melihat ke atas gerobak. Gelas sekoteng yang tadi kusiapkan sudah berada di dekat ujung meja. Padahal aku yakin meletakkannya di tengah.

Aku mengambil gelas tersebut dan membuang isinya ke tanah. Setelah itu aku menutup semua wadah dan mengikat kembali barang-barang di gerobak. Aku ingin segera meninggalkan kebun.

Ketika roda mulai bergerak, terdengar suara anak kecil tertawa. Tawa itu tidak lagi berasal dari pepohonan. Suaranya terdengar tepat di belakang gerobak.

Aku tidak berani menoleh. Aku hanya terus mendorong gerobak sambil membaca doa dalam hati. Namun semakin jauh aku berjalan, suara anak tersebut justru semakin jelas.

"Mas, sekotengnya." Aku mempercepat langkah. Suara itu kembali terdengar.

"Mas, aku mau beli." Kali ini suara tersebut terdengar tepat di samping telingaku, padahal tidak ada siapa pun di sebelahku.

Aku merinding dan berhenti. Gerobak ikut berhenti karena roda depannya seperti tertahan sesuatu. Aku mencoba menariknya, tetapi terasa sangat berat.

Kemudian terdengar suara anak menangis. Tangisannya terdengar lirih dan sedih, seperti seorang anak yang sedang mencari orang tuanya. Aku merasa kasihan sekaligus takut.

Aku berkata, "Kalau kamu tersesat, ikut saya sampai keluar kebun." Tidak ada jawaban. Beberapa detik kemudian tangisan itu berhenti.

Aku kembali mendorong gerobak. Kali ini rodanya bergerak dengan mudah. Namun dari dalam salah satu wadah terdengar suara ketukan kecil.

Aku membuka wadah berisi kacang. Tidak ada apa-apa di dalamnya. Ketukan terdengar lagi, kali ini dari panci sekoteng.

Aku membuka tutup panci dengan cepat. Uap panas langsung keluar dan menutupi wajahku. Di antara uap itu, aku mendengar suara anak tertawa.

Aku menutup panci dan mundur. Tanganku gemetar hebat. Aku mulai yakin bahwa suara tersebut bukan berasal dari anak yang sedang mencari makanan.

Aku mencoba menelepon seorang teman menggunakan ponsel. Sinyal tiba-tiba hilang meskipun biasanya kawasan tersebut masih memiliki jaringan. Aku berjalan terus sambil berharap segera mencapai jalan utama.

Di depan terlihat sebuah persimpangan kecil. Aku merasa lega karena mengenali tempat itu. Namun ketika mengambil jalan kanan, suasana sekitar justru semakin gelap.

Aku sadar ada yang salah. Jalan tersebut seharusnya menuju kampung, tetapi kali ini jalurnya tampak lebih sempit dan panjang. Aku mencoba berbalik, tetapi suara anak kecil terdengar lagi.

"Mas, sekotengnya belum dibayar." Aku langsung berhenti. Aku menatap gerobak dan melihat sebuah gelas plastik berdiri di atasnya.

Gelas itu berisi sekoteng yang masih panas. Aku tidak pernah menuangkannya. Bahkan tutup panci masih dalam keadaan terpasang.

Di samping gelas terdapat beberapa keping uang logam lama. Aku mengenali bentuknya sebagai uang yang sudah jarang digunakan. Aku tidak berani menyentuhnya.

Suara anak kecil kemudian berkata, "Ini uangnya, Mas." Aku mundur beberapa langkah.

Aku mulai membaca doa lebih keras. Suara anak itu berubah menjadi tangisan. Kemudian tangisan tersebut berubah menjadi tawa yang terdengar sangat dekat.

Tiba-tiba gerobakku bergerak sendiri. Roda depan berputar perlahan menuju jalan kecil di antara pepohonan. Aku memegang pegangan gerobak agar tidak bergerak lebih jauh.

Tenagaku terasa tidak cukup untuk menahannya. Gerobak terus menarikku menuju bagian kebun yang lebih gelap. Dari belakang terdengar suara anak kecil berkata, "Aku mau p**ang."

Aku melepaskan pegangan gerobak dan berlari menuju arah berlawanan. Baru beberapa langkah, aku mendengar suara gerobak berhenti. Kemudian terdengar bunyi gelas pecah.

Aku menoleh dan melihat gerobakku berdiri sendirian di tengah jalan. Di sampingnya tampak seorang anak laki-laki kecil dengan pakaian sederhana.

Anak itu membungkuk mengambil sesuatu dari tanah. Ketika ia berdiri, wajahnya terlihat sangat pucat. Ia menatapku tanpa berkedip.

Aku bertanya, "Kamu siapa?" Anak itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke gerobakku.

Aku melihat ke arah yang ditunjuk. Semua gelas plastik di atas gerobak sudah tersusun rapi. Di tengahnya terdapat satu gelas berisi sekoteng.

Anak itu berkata, "Buat saya, Mas." Aku merasa tubuhku tidak bisa bergerak. Suaranya terdengar seperti berasal dari anak kecil, tetapi nada bicaranya terasa sangat tua.

Aku memejamkan mata dan terus membaca doa. Ketika membuka mata kembali, anak itu sudah tidak berada di tempatnya. Gerobakku juga tiba-tiba berada beberapa meter lebih jauh.

Aku berlari menuju jalan utama tanpa membawa gerobak. Namun setelah beberapa menit, aku menyadari jalan tersebut kembali menuju tempat yang sama. Pohon-pohon di sekelilingku tampak seperti berputar mengelilingi jalan.

Aku mulai panik. Aku berteriak meminta pertolongan, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian dari arah belakang terdengar suara anak itu lagi.

"Mas, jangan tinggalin saya." Aku tidak berani menoleh.

Suara tersebut semakin dekat. "Mas, saya mau p**ang." Aku terus berjalan sambil membaca doa.

Tiba-tiba suara itu berhenti. Di depan terlihat cahaya lampu rumah. Aku langsung berlari menuju cahaya tersebut.

Aku keluar dari kebun dan menemukan diriku berada di dekat sebuah rumah tua. Seorang lelaki yang sedang duduk di teras langsung menghampiriku setelah melihat kondisiku.

Aku menceritakan bahwa aku tersesat di kebun dan mendengar suara anak kecil meminta sekoteng. Lelaki itu terdiam cukup lama sebelum bertanya di bagian kebun mana aku mendengar suara tersebut.

Ketika kusebut lokasinya, wajah lelaki itu berubah. Ia mengatakan bahwa sekitar sepuluh tahun sebelumnya ada seorang anak laki-laki yang meninggal di kebun tersebut setelah tersesat saat mencari keluarganya.

Menurut cerita warga, anak itu dahulu sering membeli minuman dari pedagang keliling yang melewati jalan tersebut. Lelaki itu kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku sulit tidur malam itu.

"Kalau dia memanggil penjual sekoteng, biasanya dia tidak sekadar meminta minuman." Aku bertanya apa maksudnya, tetapi lelaki tersebut memilih diam. Ia hanya menyuruhku jangan kembali melewati kebun itu sendirian.

Aku akhirnya menemukan gerobakku keesokan paginya dengan bantuan beberapa warga. Gerobak tersebut berada di dekat jalan yang berbeda dari tempat terakhir kali kulihat. Tidak ada kerusakan, tetapi satu gelas sekoteng masih berada di atasnya.

Di bawah gelas tersebut terdapat beberapa uang logam lama. Aku menyerahkan semuanya kepada lelaki yang membantuku dan tidak pernah lagi menyimpan benda itu.

Aku tetap berjualan sekoteng setelah kejadian tersebut. Namun setiap kali melewati kebun itu, aku memilih memutar melalui jalan utama meskipun jaraknya jauh.

Bertahun-tahun kemudian, seorang pedagang lain mengatakan pernah mendengar suara anak kecil memanggilnya dari kebun yang sama. Ia mendengar kalimat yang persis seperti yang kudengar pada malam itu.

"Mas, beli sekotengnya." Mendengar cerita tersebut membuatku kembali teringat pada gelas yang muncul sendiri di atas gerobakku. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah anak itu benar-benar ingin membeli sekoteng atau sebenarnya sedang mencari seseorang untuk menemaninya p**ang.

25/09/2026

Perempuan Bergaun Putih - Cerita Hantu

Bus wisata yang kutumpangi berhenti perlahan di depan sebuah kawasan wisata ketika matahari hampir tenggelam di balik perbukitan Jogja. Aku turun bersama rombongan dengan membawa kamera kecil dan tas selempang, tanpa sedikit pun merasa perjalanan itu akan berubah menjadi pengalaman paling mengerikan dalam hidupku. Udara sore terasa sejuk, tetapi ada sesuatu di tempat tersebut yang membuatku beberapa kali menoleh ke belakang.

Namaku Rani, usiaku dua puluh delapan tahun, dan aku mengikuti tur wisata Jogja bersama beberapa teman kantor. Perjalanan itu merupakan liburan singkat selama tiga hari untuk melepas penat setelah beberapa bulan bekerja. Aku memilih ikut karena ingin mengunjungi beberapa tempat wisata yang selama ini hanya kulihat melalui cerita orang lain.

Tujuan pertama kami adalah sebuah kawasan wisata yang cukup ramai dikunjungi wisatawan. Pemandu menjelaskan sejarah tempat tersebut sambil membawa rombongan menyusuri jalur yang dipenuhi bangunan tua. Aku sibuk mengambil gambar ketika melihat seorang perempuan berdiri sendirian agak jauh dari rombongan.

Perempuan itu mengenakan pakaian putih panjang dan rambutnya terurai sampai melewati bahu. Wajahnya tidak terlihat jelas karena ia berdiri membelakangiku. Aku mengira dia wisatawan lain yang sedang menunggu rombongannya.

Aku melanjutkan perjalanan bersama teman-teman. Beberapa menit kemudian aku melihat perempuan yang sama berada di sisi lain jalur. Posisi tubuhnya masih membelakangiku, seolah-olah sejak tadi hanya berdiri menunggu.

Aku bertanya kepada teman bernama Siska apakah dia mengenal perempuan tersebut. Siska melihat ke arah yang kutunjuk lalu mengatakan tidak melihat siapa pun. Aku mengira pandanganku keliru karena suasana tempat itu cukup ramai.

Rombongan kemudian berhenti di sebuah bangunan tua untuk mendengarkan penjelasan pemandu. Aku berdiri di bagian belakang karena ingin mengambil gambar seluruh bangunan. Saat kamera kuarahkan ke pintu, perempuan berpakaian putih tadi terlihat berdiri di dalam ruangan.

Aku langsung menurunkan kamera. Ketika melihat kembali dengan mata telanjang, ruangan itu kosong. Aku mencoba mengambil gambar sekali lagi, tetapi hasilnya hanya memperlihatkan pintu gelap tanpa sosok perempuan tersebut.

Perasaan tidak nyaman mulai muncul. Aku menyimpan kamera dan memilih berdiri lebih dekat dengan teman-temanku. Namun ketika rombongan kembali berjalan, aku mendengar seseorang memanggil namaku dari belakang.

Aku menoleh dan melihat perempuan itu berdiri beberapa meter dariku. Kali ini wajahnya terlihat samar dan kulitnya tampak sangat pucat. Bibirnya bergerak seperti sedang mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak mendengar suaranya.

Aku mempercepat langkah untuk mengejar rombongan. Pemandu kemudian mengajak kami berpindah menuju halaman belakang. Aku tidak lagi melihat perempuan itu dan mulai merasa mungkin semuanya hanya kebetulan.

Saat rombongan berkumpul untuk berfoto, aku berdiri di antara Siska dan seorang teman lainnya. Setelah foto selesai, Siska tiba-tiba mengatakan bahwa ada seorang perempuan berdiri tepat di belakangku. Aku langsung menoleh, tetapi tidak melihat siapa pun.

Siska menunjukkan hasil foto dari ponselnya. Di belakang bahuku memang terlihat bagian kepala seorang perempuan berambut panjang. Wajahnya hampir tidak terlihat karena rambut menutupi seluruh bagian depan.

Aku merasa tubuhku mendadak dingin. Aku meminta Siska menghapus foto tersebut, tetapi dia mengatakan gambar itu sudah tersimpan otomatis. Pemandu kemudian memanggil kami agar segera kembali ke bus.

Aku naik paling akhir karena sempat membeli air mineral. Ketika melewati pintu bus, aku melihat perempuan berpakaian putih duduk di kursi paling belakang. Aku mengira dia peserta tur dari kelompok lain.

Aku bertanya kepada pemandu apakah ada rombongan lain yang ikut bus kami. Pemandu langsung menjawab bahwa seluruh kursi belakang memang kosong dan hanya rombongan kami yang berada di dalam kendaraan. Aku menoleh kembali, tetapi kursi tersebut sudah kosong.

Perjalanan menuju hotel dimulai setelah langit benar-benar gelap. Aku duduk di tengah bus sambil mencoba melupakan kejadian tadi. Namun sepanjang perjalanan, aku merasa seperti ada seseorang yang memperhatikanku dari kursi belakang.

Beberapa kali aku mendengar bunyi kursi berderit. Ketika menoleh, tidak ada siapa pun. Teman-temanku juga terlihat sibuk berbicara sehingga aku memilih diam.

Sesampainya di hotel, kami mendapat kamar masing-masing. Aku sekamar dengan Siska di lantai tiga. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku mencoba tidur lebih awal karena jadwal tur berikutnya dimulai pagi.

Sekitar pukul sebelas malam, aku mendengar ketukan dari pintu kamar. Tiga ketukan terdengar perlahan, kemudian berhenti. Aku mengira teman dari kamar sebelah sedang bercanda.

Siska membuka pintu. Lorong hotel terlihat kosong. Tidak ada siapa pun di depan kamar.

Kami menutup pintu dan kembali ke tempat tidur. Baru beberapa menit kemudian ketukan terdengar lagi. Kali ini bukan dari pintu, melainkan dari kaca jendela.

Aku dan Siska saling memandang. Kamar kami berada di lantai tiga sehingga tidak mungkin seseorang mengetuk jendela dari luar tanpa alat. Siska mengatakan mungkin suara berasal dari dahan pohon.

Aku mendekati jendela dan menarik tirainya sedikit. Di luar hanya terlihat halaman hotel yang gelap. Tidak ada pohon yang cukup dekat dengan jendela.

Ketika tirai kututup kembali, bayangan seorang perempuan terlihat pada kaca. Aku langsung berbalik. Tidak ada siapa pun di belakangku.

Siska mulai panik dan bertanya apa yang kulihat. Aku tidak menjawab karena takut membuatnya semakin ketakutan. Kami kemudian memutuskan menyalakan semua lampu kamar.

Sekitar lima belas menit kemudian, televisi menyala sendiri. Layar menampilkan saluran yang tidak jelas karena hanya dipenuhi garis-garis. Dari speaker terdengar suara perempuan yang sangat pelan.

Siska segera mencabut kabel televisi. Layar mati, tetapi suara tersebut masih terdengar beberapa detik. Suaranya kemudian berubah menjadi suara tawa pendek.

Kami keluar kamar dan menuju meja resepsionis. Aku menjelaskan bahwa televisi dan jendela kamar mengalami gangguan. Petugas hotel meminta kami menunggu sebentar sebelum memeriksa kamar.

Seorang petugas datang bersama kami ke lantai tiga. Ia memeriksa televisi, jendela, dan pintu kamar. Semuanya terlihat normal.

Ketika hendak keluar, petugas itu tiba-tiba berhenti di depan cermin kamar mandi. Wajahnya berubah tegang. Ia bertanya apakah sebelumnya kami melihat seseorang berdiri di belakang kami.

Aku langsung menoleh ke cermin. Di sana hanya terlihat pantulan kami bertiga. Namun beberapa detik kemudian, muncul pantulan perempuan bergaun putih berdiri di antara aku dan Siska.

Aku berteriak dan berbalik. Tidak ada siapa pun. Ketika melihat cermin lagi, pantulan itu sudah menghilang.

Petugas hotel terlihat sangat pucat. Ia mengatakan bahwa kamar tersebut pernah beberapa kali dilaporkan mengalami gangguan, tetapi pihak hotel tidak pernah mengetahui penyebabnya. Ia kemudian menawarkan kamar lain untuk kami.

Kami pindah ke kamar di lantai dua. Aku berharap semuanya berakhir setelah berganti kamar. Namun ketika pintu kamar baru dibuka, aku melihat sesuatu yang membuat kakiku berhenti melangkah.

Di atas meja terdapat sehelai rambut panjang berwarna hitam. Siska mengatakan rambut itu mungkin milik tamu sebelumnya. Aku mencoba percaya pada penjelasan tersebut meskipun rambut itu terlihat sangat panjang dan basah.

Malam semakin larut. Kami akhirnya mencoba tidur dengan lampu menyala. Aku baru hampir terlelap ketika mendengar suara seseorang berjalan di lorong sambil menyeret sesuatu.

Suara itu berhenti tepat di depan pintu kamar kami. Tidak ada ketukan kali ini. Hanya terdengar suara napas panjang dari sisi luar pintu.

Aku memegang tangan Siska dan kami tidak bergerak. Beberapa detik kemudian, gagang pintu perlahan turun seperti ada seseorang yang mencoba membukanya.

Pintu tidak terbuka karena kunci pengaman masih terpasang. Setelah beberapa saat, gagang pintu kembali ke posisi semula. Kami menunggu lama sebelum berani mendekati pintu.

Aku melihat melalui lubang pengintip. Lorong terlihat kosong. Namun di ujung koridor, perempuan berpakaian putih berdiri menghadap ke arah kamar kami.

Aku mundur dari pintu. Sosok itu tidak bergerak sama sekali. Beberapa detik kemudian, lampu koridor berkedip dan sosok tersebut sudah tidak terlihat.

Pagi harinya kami menceritakan kejadian itu kepada pemandu tur. Ia terlihat terkejut ketika melihat foto yang diambil Siska. Ia mengatakan lokasi wisata yang kami kunjungi memang memiliki cerita lama mengenai seorang perempuan yang meninggal di kawasan tersebut, tetapi ia tidak pernah menyangka cerita itu akan mengikuti wisatawan sampai hotel.

Aku menghapus semua foto dari tempat wisata itu. Namun satu foto terakhir tidak bisa dihapus dari ponselku. Foto tersebut memperlihatkan kamar hotel kami dari sudut yang tidak mungkin digunakan oleh siapa pun.

Dalam gambar itu, aku dan Siska terlihat sedang tidur. Di belakang tempat tidur berdiri perempuan bergaun putih dengan wajah tertutup rambut. Yang paling membuatku ketakutan adalah waktu pengambilan gambar tercatat pukul 03.17, saat ponselku berada di atas meja dan aku tidak pernah bangun dari tempat tidur.

Aku p**ang dari Jogja dua hari kemudian dan tidak pernah mengikuti tur malam lagi. Foto tersebut akhirnya hilang sendiri setelah beberapa minggu, tetapi nomor kamar hotel masih muncul sesekali di riwayat galeri tanpa ada gambar yang menyertainya. Sampai sekarang, setiap kali mendengar ketukan tiga kali di pintu kamar, aku selalu teringat perempuan bergaun putih yang mungkin belum selesai mengikuti perjalanan p**ang kami.

Address

Palu
94225

Opening Hours

Monday 09:00 - 21:00
Tuesday 09:00 - 21:00
Wednesday 09:00 - 21:00
Thursday 09:00 - 21:00
Friday 09:00 - 21:00
Saturday 09:00 - 21:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when A&A - Jasa Pembuatan Website posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category