11/03/2017
Teko Hanya Mengeluarkan Isinya
Sering kalimat ini kita dengar. Namun tak jarang ia hanya lewat begitu saja tanpa mampu mengambil makna yang membuat kita dewasa.
Silih bergantinya peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita, semestinya membuat kita banyak belajar. Allah hadirkan tentu bukan tanpa tujuan. Kesenangan, kesedihan. Kemudahan, kesulitan. Tawa, nestapa. Sesungguhnya adalah cara Allah mencintai kita. Cara Allah menuangkan hikmah, bagi orang-orang yang mau belajar.
**
Pemenang sebenarnya bukan orang yang teriakannya paling lantang. Namun orang yang memiliki daya tahan menghadapi semua rintangan. Ia tahu benar bahwa pukulan yang tak mematikannya akan membuatnya lebih kuat. Pukulan yang bertubi-tubi itu mungkin membuatnya terhuyung, tapi tidak mematikan. Dan setelahnya, ia mampu berdiri lebih tegak, siap menerima hantaman lebih besar.
Maka daya tahan bersinergi dengan kesabaran. Dan kesabaran terdeteksi pada saat pukulan pertama datang. Apakah respon kebaikan, atau respon keburukan. Adakah penerimaan, atau penolakan. Adakah tetap tenang, atau meradang.
**
Kesabaran dan daya tahan seseorang akan tampak pada sikap dan tutur kata saat peristiwa menerpa. Ia adalah refleksi pemikiran. Maka mind set yang mengendalikan.
Saya sering bilang, hidup ini sudah rumit, maka kita cari yang mudah saja. Memikirkan yang mudah akan membuat kita kehabisan waktu untuk memikirkan yang sulit. Kita tak kehabisan waktu, terpaku pada kesulitan. Sedang sejatinya lebih banyak kemudahan dibanding kesulitan, tapi seringkali energi kita habis merespon kesulitan.
**
Mind set ibarat isi teko. Seperti apa mind set kita terhadap sesuatu, seperti itulah yang akan didapat. Jika kita berpikir mudah, maka kemudahan yang akan kita dapat. Jika kita berpikir buruk, maka ada saja hal buruk yang terjadi. Jika lah mind set sudah mudah, namun ada kesulitan yang hadir, artinya Allah sedang memberikan pengajaran untuk menguatkan kita.
Maka sikap dan tutur kata kita, ibarat isi teko yang keluar dari mind set kita. Jika baik, maka yang keluar adalah respon kebaikan. Jika tak terkendali, perlu dilihat ulang, barangkali ada mind set yang perlu dibenahi.
Karena kita terus berkejaran dengan waktu. Kita butuh energi besar untuk melakukan kebaikan. Sayang jika energi tersebut habis untuk diekspresikan dalam keburukan.
Save our energy. Simpan energi kita hanya untuk mendorong kebaikan. Berkata baik. Berbuat kebaikan. Maka yang akan hadir p**a kebaikan.