21/06/2021
ENTREPRENEURSHIP DI INDONESIA. KONDISI VS PELUANG
Tingkat Entrepreneurship di Indonesia menjadi salah satu yang terendah di Asia sebesar 3.47% (2021) tertinggal dibadingkan dengan rata2 negara2 ASEAN, teratas Singapore di 30an% Negara2 Eropah serta Amerika Serikat telah mecapai lebih dari 70%, setara dengan negara2 Asia yang telah maju seperti Tiongkok yang sudah mencapai 63%, Korea Selatan dan Jepang masih menjadi yang teratas.
Rendahnya tingkat Entrepreneurships Indonesia ini tentunya disebabkan oleh banyak hal, antara lain tidak terstrukturnya kesempatan ber entrepreneurship di Indonesia dan jauh lebih kecil lagi untuk sektor manufakturing, hal ini telah menyebabkan kita sangat banyak melakukan import produk.
Disisi lain, ini merupakan potensi besar bagi masyarakat umum terutama mahasiswa/siswa, untuk menjadi Pelaku Usaha baru di khususnya di sektor manufacturing dan tehnologi, sesuai dengan skill dan keahlian yang dipelajarinya selama di sekolah dan kuliah.
Sebagai Perbandingan Pengembangan Entrepreneurships di 2 Kutub Dunia.
1. Amerika/Eropah.
Disini telah tersedia Infrastruktur yang sudah tertata baik untuk menjadi Entrepreneur.
Pendidikan:
Sudah sangat baik dan tersedia Pinjaman FAFSA serta banyak Scholarships lainnya.
Produksi:
Sudah tersedia peralatan secara tradisi digarasi atau gudang orang tua yang memang tingkat ekonomi rata2 baik.
Permodalan:
Seorang Mahasiswa sudah memiliki Credit Line melalui Credit Card yg dimiliki untuk membayar Uang Sekolah, belanja sehari hari dll. Credit Line ini bertindak sebagai Standby Loan bagi calon entrepreneurs.
Hukum:
Hasil karya calon Entrepreneurs, mudah dan murah untuk mendapat perlindungan Hukum (HAKI/Patent).
Pemasaran:
Sudah tertata dengan baik.
2. Tiongkok.
Sudah disediakan Pemerintah Tiongkok metode Pemassalan Entrepreneurship.
Pemerintah Tiongkok membeli Hak Cipta Peralatan, Mesin dll dari Eropah dan Negara maju lainnya melalui BUMNnya dan BUMN berperan sebagai Distributor Produksi komponen2 Peralatan dan Mesin2 tsb ke UKM2, dan menyediakan Bimbingan menyeluruh, sehingga UMKM ditahap awal cukup berkonsentrasi untuk memproduksi dengan effesien. Dengan jaminan Order dari BUMN, mereka mudah mendapat pinjaman dari Bank dan tentunya ditambah jamin dari mereka sendiri.
Dari order BUMN yg tidak memerlukan pemasaran, berkembang kearah pemasaran ke Pasar bebas bahkan Pasar Ekspor.
3. Indonesia.
Meniru Eropah dan Amerika dikondisi berbeda, tentunya hasinya akan berbeda.
Indonesia perlu membuat Sistim Pengembangan sendiri sesuai kondisi yang ada, dan bisa meniru Sistim yang kondisinya lebih mirip dengan Indonesia.
Untuk memulai Entrepreneurship bagi siswa/mahasiswa sebuah sekolah atau Perguruan Tinggi, adalah dengan menggandeng Kelompok Alumni yang telah berada di dunia Industri/Pengusaha, dan Alumni bisa berfungsi sebagai Agen Penggerak, baik untuk Modal, Network Pemasaran, sumber pengalaman secara umum disamping Instritusi Sekolah atau Perguruan Tinggi itu sendiri, sebelum adanya Program Terstruktur yang komprehensif dari Pemerintah, seperti Dana Desa misalnya.
Perguruan Tinggi berfungsi sebagai penyedia SDM yang terlatih melalui bahan pembelajaran aktifitas dasar usaha yang sesuai peminatan dan bakat siswa/mahasiswanya, melalui pemanfaatan dan pengoptimalan fasilitas dan SDM yang telah tersedia dan bisa dikembangkan disekolah atau kampus.
Siswa/mahasiswa Peserta Entrepreneurship bertugas belajar mewujudkan pembuatan Produk dan berlatih melakukan Pemasaran serta manjemen secara umum. Dari potensi hasil progress pembuatan produk serta pemasaran ini menjadi dasar kepemilikan modal bagi siswa/mahasiswa. Keahlian dan modal inilah menjadi bekal mahasiswa ketika lulus, melanjutkan apa yg telah dikerjakan selama sekolah dengan lebih intensif dan bakan terus bisa mengembangkan jenis produk serta jasa, yang menjadi lapangan kerjanya sendiri dan orang lainnya kedepan dan juga sebagai otomatis menjadi Alumni Penggerak setelah berhasil, sehingga Badan Usaha ini berpotensi untuk terus berkembang.
Untuk itu dalam tahap awal, Perguruan Tinggi bersama Alumni Penggerak Entrepreneurship bisa menentukan produk yang telah diseleksi berpotensi untuk dibuat sendiri dan memiliki potensi pasar yang memadai. Produk2 ini bisa di sediakan terlebih dahulu oleh Badan Kerjasama untuk dipasarkan oleh siswa calon entrepreneurs setelah melalui program pelatihan/pemagangan yang diadakan untuk itu.
Badan Usaha yang umum bisa berupa PT dll, akan dipimpin oleh kombinasi investor/Alumni dengan mahasiswa yang memiliki potensi yang diseleksi selama Pemagangan dll, sementara Alumni yang menanam Modal dapat menjadi Komisaris atau Pengawas.
Permodalan mahasiswa diperoleh dari Pembayaran Jam Kerja dan Nilai dari Pencapaian dan atau Hasil Karyanya dengan memanfaatkan Jam kerja siang untuk kebutuhannya sehari hari secukupnya, sehingga tidak membebani orang tua/wali, disamping jam kerja standar dan berbayar tsb, siswa peserta juga berkomitmen kerja tambahan dimalam hari atau hari libur, yang sepenuhnya sebagai setoran kepemilikan saham di PT yang dikelolanya tsb.
Go Entrepreners goent26.com dibuat sebagai prototipe Pengembangan Entrepreneurships mulai tingkat SMK di Indonesia, dan dimulai sejak awal sekolah (Kelas 10) dan kebetulan selaras bahkan dalam bentuk pelaksanaan Program Belajar Merdeka Pemerintah.
Dengan kolaborasi antar skill/peminatan, maka akan terbuka peluang usaha serta karir, terutama diera Digitalisasi ini.