11/08/2012
LAILATUL QADAR
Malam lailatul qadar disebut sebagai malam bergelimangan kemuliaan dan keberkahan bahkan lebih baik dari daripada seribu bulan. “Lailatul qadar” bukan sesuatu yang bersifat imaterial yang tidak bisa dilihat sehingga akan menjadi misteri sepanjang masa karena hanya Allah sendirilah yang akan memberitahukannya.
Allah berfirman dalam Alquran surah Al Qadr ayat 5 yang berbunyi, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan)."
lailatul qadar sendiri memiliki tiga arti. Pertama, penetapan dan pengaturan sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan 'Qadar' sebagai ketetapan dapat dijumpai pada firman Allah di surah Ad Dukhan ayat 3-5, yaitu "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami".
Kedua, Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran.
Ketiga, Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi untuk menyebarkan kemuliaan.
Tidak mudah untuk mengetahui tanda-tanda bagi orang yang mendapatkan lailatul qadar, sebab tanda-tandanya bersifat spiritual (imaterial) bukan material. "Hanya orang yang berusaha menjemputnya saja yang akan meraihnya dan menjadi ukuran sebenarnya saat di luar bulan puasa, 11 bulan yang lain," tuturnya.
Adapun ciri-ciri orang yang meraih kemuliaan lailatul qadar dapat dilihat dari lima hal : Pertama, orang yang senantiasa timbul kesadaran ihsan. Senantiasa merasa bahwa Allah SWT selalu besertanya, sehingga jika tergoda untuk melakukan maksiat tidak akan tergoda karena kuat imannya, Allah Maha Melihat dan Allah Maha Mengetahui.
Kedua, orang yang meningkat tingkat keihklasannya. Ikhlas berarti murni. Tujuan hidup senantiasa harus murni yakni hanya mengharap ridho Allah SWT. Seorang mukmin tidak merasa putus asa jika mendapat cacian namun ketika mendapat pujian tidak merasa sombong diri. Hal ini karena tujuan hidupnya bukan mengharapkan pujian dari orang lain.
"Ketiga, orang yang kesadarannya meningkat. Kesabaran ibarat keimanan yang bersifat fluktuatif, terkadang bertambah dan berkurang. Ketika mendapat musibah maka hendaklah bersabar,".
Keempat, orang yang senantiasa pandai bersyukur. Berapapun rejeki yang diterima selalu bersyukur sebab orang yang senantiasa bersyukur akan selalu merasa bahagia dalm hidupnya.
Kelima, orang yang timbul dalam dirinya sikap empati yakni senantiasa peka terhadap perasaan orang lain sehingga ikut merasakan. Melihat orang susah timbul perasaan empati sehingga lebih bijak dalam menggunakan hartanya.
Lailatul qadar merupakan hadiah yang luar biasa dari Allah SWT khususnya di bulan Ramadan. Untuk meraihnya umat muslim dianjurkan untuk meluruskan niat. "Untuk meraihnya tidak mudah sehingga harus meluruskan niat dan cara yang benar, mudah-mudahan kita termasuk diantaranya yang mendapatkan kemuliaan tersebut" tutupnya.
http://www.juncorner.co.cc/?cat=14