Taman Belajar Anak

Taman Belajar Anak sumber bacaan islami yang mendidik anak menjadi generasi yang cerdas, sholeh sholehah dan mengajarka Galery perpustakaan yang berisi buku teladan anak islami

24/12/2017

🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂

*Agar Bisa Bahagia di Surga Bersama Seluruh Anggota Keluarga*

Oleh : Cahyadi Takariawan

Orang dulu mengatakan cintaku sehidup semati. Seakan setelah mati semua urusan selesai. Padahal mestinya masih ada reuni yang lebih indah lagi. Maka pasangan _jaman now_ harus memiliki prinsip selalu mencintai dan tetap bahagia bersama hingga ke surga Allah Ta’ala. Inilah cinta yang hakiki. Allah menggambarkan keindahan surga yang bisa direguk bersama oleh semua anggota keluarga, suami, istri, orang tua, anak-anak, cucu-cucu. Jalur ke atas dan jalur ke bawah, semua bisa berkumpul dalam kondisi yang bahagia di surga.

Firman Allah Ta’ala:
والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء

“Orang-oranng yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21). Allah Ta’ala telah berfirman:

ربنا وأدخلهم جنات عدن التي وعدتهم ومَن صلح مِن آبائهم وأزواجهم وذرياتهم إنك أنت العزيز الحكيم
“Ya Rabb kami masukanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah
Engkau janjikan kepada mereka dan orang shalih diantara nenek moyang mereka, istri-istri dan anak keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ghafir: 8).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Kitab Tafsirnya menjelaskan:
“Allah Ta’ala akan mengumpulkan mereka berserta anak keturunannya agar menyejukkan pandangan mereka karena berkumpul pada satu kedudukan yang berdekatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka.”

Artinya, akan Kami samakan mereka pada satu kedudukan agar mereka (orang yang berkedudukan lebih tinggi) merasa tenang. Bukan dengan mengurangi kedudukan mereka yang lebih tinggi, sehingga bisa setara dengan mereka yang rendah kedudukannya, namun dengan kami angkat derajat orang yang amalnya kurang, sehingga kami samakan dia dengan derajat orang yang banyak amalnya, sebagai bentuk karunia dan kenikmatan yang kami berikan. Said bin Jubair mengatakan, “Tatkala seorang mukmin memasuki surga maka ia akan menanyakan tentang bapaknya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya dimanakah mereka? Maka dikatakan kepadanya bahwa mereka semua tidak sampai pada derajatmu di surga. Maka orang mukmin tersebut menjawab ‘Sesungguhnya pahala amal kebaikanku ini untukku dan untuk mereka.’ Maka mereka (keluarganya) dipertemukan pada satu kedudukan dengannya.”
(Lihat : Tafsir Ibn Katsir, 4/73).

Agar Bisa Berkumpul di Surga Bersama Keluarga Bisa bahagia bersama seluruh anggota keluarga di surga bukanlah hal yang gratis. Hal ini harus diupayakan dengan segenap kesungguhan. Jika usaha dilakukan dengan bersungguh-sungguh, insyaallah semua akan bisa mendapatkan surga, bahkan dengan derajat paling tinggi yang bisa dicapai oleh salah satu anggota keluarga itu. Jika kita resapi ayat-ayat Allah dalam surat Ar Ra’du ayat 20 – 24 akan kita jumpai beberapa perintah, sebelum akhirnya Allah berikan kenikmatan berupa surga beserta seluruh anggota keluarga.

Allah Ta’ala telah berfirman: “Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. QS. Ar-Ra’du [13] : 18-24. Dari rangkaian ayat-ayat di atas, terdapat beberapa perintah untuk kita laksanakan, agar semua bisa berkumpul di surga ‘Adn yang penuh keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan hakiki.

🍃Istijabah terhadap perintah Allah (QS. Ar-Ra’du : 18)

Orang-orang yang beriman selalu mendengar dan taat terhadap perintah Allah Ta’ala. Mereka bersegera menyambut seruan Allah untuk melaksanakan berbagai kewajiban dalam berbagai bidang kehidupan. Ada perintah untuk kita laksanakan, ada p**a larangan untuk kita tinggalkan. Suami dan istri yang selalu istijabah terhadap perintah Allah akan mengutamakan memenuhi perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Allah Ta’ala telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24) Nabi Saw bersabda: “Bersegeralah kalian melakukan amal shalih karena adanya fitnah sebagaimana malam yang gelap. Seseorang menjadi mukmin di pagi hari dan sore hari menjadi kafir. Di sore hari mukmin lalu pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Muslim) Betapa banyak keluarga berantakan karena pelanggaran yang dilakukan oleh suami dan istri. Dampaknya anak-anak ikut mudah melakukan pelanggaran. Jika keluarga sudah membiasakan melakukan pelanggaran, maka tidak akan ada kebahagiaan yang bisa mereka dapatkan. Di dunia, akan mendapatkan kebahagiaan semu. Di akhirat, mereka mendapatkan balasan dari keburukan yang mereka lakukan.

🍃Setia memenuhi janji Allah (QS. Ar-Ra’du : 20)

Orang-orang beriman selalu setia memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian dengan Allah. Ada banyak perjanjian manusia dengan Allah, di antaranya adalah perjanjian keimanan yang sudah diikrarkan sejak sebelum lahir ke dunia. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Al-A’raf 172). Suami dan istri yang beriman akan selalu memenuhi janji keimanan kepada Allah, janji untuk selalu menjadikan Allah sebagai tujuan kehidupan, sebagaimana ikrar yang selalu terucap : inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘aalamin. Bahwa shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah pencipta alam semesta.

🍃Menghubungkan apa yang Allah perintahkan (QS. Ar-Ra’du : 21)

Islam sangat menjaga tali persaudaraan, dan tidak menghendaki ummatnya untuk merusak hubungan kekeluargaan. Allah menghendaki orang-orang beriman untuk selalu menjaga hubungan silaturahim dan tidak memutuskannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad 1/194). Pasangan suami dan istri yang beriman akan selalu menjaga hubungan sakral yang terjadi di antara mereka disebabkan akad nikah yang telah mereka ikrarkan. Suami dan istri juga selalu menyambung tali silaturahim dengan orang tua, saudara dan sanak kerabat, karena hal ini diperintahkan oleh Allah. Adapun orang yang tidak beriman, akan sangat mudah merusak serta memutus tali persaudaraan yang sudah Allah berikan kepada mereka.

🍃Selalu takut kepada Allah (QS. Ar-Ra’du : 21)

Orang yang takut kepada Allah akan selalu menjaga diri baik dalam keramaian maupun kesendirian. Maka suami dan istri yang takut kepada Allah akan selalu menjauhi tindakan maksiat, dosa serta perbuatan menyimpang lainnya. Mereka menjadi pribadi yang lurus, berbudi pekerti mulia, takut melakukan pelanggaran dan penyimpangan, karena didasari rasa takut kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perasaan takut selamanya mengandung makna pengharapan, jika tidak demikian maka yang terjadi adalah sifat putus asa. Demikian juga, pengharapan membutuhkan perasaan takut, jika tidak demikian maka merupakan suatu ketenangan (yang menipu). Maka orang yang mempunyai perasaan takut dan pengharapan kepada Allah Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang berilmu yang dipuji Allah Ta’ala.” Pasangan suami istri yang tidak takut kepada Allah akan mudah melakukan perselingkuhan, penyelewengan, serta berbagai perbuatan tercela lainnya. Seakan tidak ada yang mengawasi perbuatan mereka. Hal inilah yang menghancurkan kebahagiaan dan keutuhan keluarga, karena sudah tidak memiliki rasa takut kepada Allah.

🍃Bersabar dalam mencari ridha Allah (QS. Ar-Ra’du : 22)

Ada sangat banyak hambatan dan godaan ketika kita berada di jalan Allah, maka bersabar adalah sebuah keharusan. Pasangan suami dan istri hendaknya saling menguatkan dalam kesabaran, agar mereka bisa merasa ringan dalam mencari keridhaan Allah. Karena kesabaran adalah hal yang berat, maka balasan yang Allah berikan kepada orang yang bersabar juga sangat istimewa. Allah telah berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqan [25] : 75). Pasangan suami istri yang tidak bersabar terhadap berbagai gangguan, godaan, dan cobaan, akan mudah menyerah dengan keadaan. Untuk mencari rejeki yang halal, harus sabar dengan kesulitannya. Untuk mendapatkan penghidupan yang berkah, harus sabar dengan prosesnya. Semua memerlukan kesabaran, apalagi hidup di zaman teknologi yang membuat orang semakin mudah bersaing secara brutal.

🍃Menegakkan shalat (QS. Ar-Ra’du : 22)

Shalat merupakan tiang penegak agama seseorang, dan menjadi amal yang akan dihisab pertama kali di akhirat kelak. Shalat adalah ibadah pokok dalam Islam yang menghantarkan pelakunya mendapatkan cahaya dan keselamatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu, baginya cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. Pada hari kiamat, ia akan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad 2: 169). Pasangan suami istri yang selalu menjaga shalat lima waktu, apalagi menambah dengan shalat-shalat sunnah, maka mereka telah menegakkan pondasi agama yang kokoh dalam keluarganya. Namun ketika suami dan istri meninggalkan shalat, meremehkan dan tidak mengutamakan shalat, maka pondasi kehidupan rumah tangga merekapun rapuh dan mudah goyah.

🍃Menafkahkan rejeki (QS. Ar-Ra’du : 22)

Orang beriman selalu menyadari bahwa dalam hartanya ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Maka ada infaq yang wajib dikeluarkan berupa zakat, ada p**a infaq yang sunnah berupa shadaqah dan lain-lain. Pasangan suami istri yang murah dan mudah dalam mengeluarkan infaq, akan mendapatkan ganti dan pemberian yang melimpah dari sisi Allah. Mengeluarkan infaq tidak akan membuat seseorang menjadi jatuh miskin. Allah telah berfirman: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya” (QS. Saba’ : 39).] Nabi Saw telah bersabda, “Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya)”. (Riwayat Imam Bukhari). Maka keluarga yang murah dan mudah dalam mengeluarkan infaq, akan mendapatkan kemurahan dan kemudahan p**a dari Allah Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat.

🍃Menolak kejahatan dengan kebaikan (QS. Ar-Ra’du : 22)

Orang-orang yang beriman diperintahkan untuk menolak kejahatan atau keburukan dengan kebaikan, sebagaimana dinyatakan di dalam ayat: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35). Ibnu ‘Abbas Ra mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang berbuat jahil, dan memaafkan ketika ada yang berbuat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Pasangan suami istri yang tidak berlaku semena-mena terhadap pasangannya, keluarga maupun terhadap orang lain, bahkan membalas keburukan dengan kebaikan, maka akan menumbuhkan rasa cinta kasih yang semakin kuat di antara mereka. Kehidupan keluarga akan diwarnai bahagia sejak di dunia hingga kelak di surga. “Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): Salamun ‘alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. Semoga kita bisa meraihnya bersama seluruh anggota keluarga. Aamiin.

🍃🍂🍃🍂🍃

04/12/2017

Bismillaah

1— Jika melihat anakmu menangis, jangan buang-buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjukkan burung atau awan ke arah langit agar dia melihatnya, dia akan terdiam. Kerana psikologi manusia saat menangis, adalah menunduk.

2— Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: "Sudah, jangan main lagi, stop sekarang!". Tapi katakan kepada mereka: "Mainnya 5 menit lagi yaaa". Kemudian ingatkan kembali:"Dua menit lagi yaaa". Kemudian barulah katakan:"Sudah Ya, waktu main sudah habis". Mereka akan berhenti bermain.

3— Jika anak-anak sedang ribut-ribut atau menyebabkan keadaan riuh di sesuatu tempat, dan Anda ingin mengalihkan perhatian mereka, maka katakanlah: "siapa yang mau mendengar cerita ibu? angkat tangan..". Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.

4— Katakan kepada anak-anak sewaktu mau tidur:"tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh", maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata: "Ayo tidur, besok kan sekolah", akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.

5— Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kenakalan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, berguraulah bersama mereka.

6— Tinggalkan HP seketika, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon karena urusan tak penting, katakan:"Maaf, saya sedang sibuk dengan anak-anak". Semua ini tidak menyebabkan wibawamu jatuh, atau hilangnya keperibadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana bagaimana cara menyeimbangkan antara urusan lain dan mendidik anak.

Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah. Dengarkan doa kita didepan anak-anak supaya mereka tahu betapa pentingnya mereka pada kita.

Sumber : FP Syech Ali Jaber

*Hujjatul Islam Imam Al-Gahazali menyebutkan bahwa guru adalah orang besar di semua kerajaan langit. Ia mengumpamakannya...
25/11/2017

*Hujjatul Islam Imam Al-Gahazali menyebutkan bahwa guru adalah orang besar di semua kerajaan langit. Ia mengumpamakannya seperti matahari yang menerangi dan memberikan kehidupan bagi umat islam.*

Sudahkah kita memuliakan guru-guru kita?
Sudahkan kita memuliakan guru-guru anak kita?
Boleh jadi gelar duniawi kita lebih tinggi dari mereka namun adakah kita tetap menghormati dan bersikap baik pada mereka

Apa yang diberikan oleh para guru kita tidak mungkin bisa dinilai dengan materi walaupun harus memberikan dunia besarta isinya karena ilmu adalah warisan Nabi yang jauh lebih mulia daripada dunia.
Karena ilmu yang mereka berikan akan menjadi bekal kita dan anak-anak kita kelak di dunia dan di akhirat maka muliakanlah mereka..

Selamat hari guru...

Nabi Adam a.s sebagai manusia sekaligus nabi pertama yang menghuni bumi, pernah tinggal di surga. Beliau diturunkan dari...
21/11/2017

Nabi Adam a.s sebagai manusia sekaligus nabi pertama yang menghuni bumi, pernah tinggal di surga. Beliau diturunkan dari surga ke bumi karena godaan iblis. Beliau dibujuk untuk melanggar larangan Allah Swt. Sejak itu, beliau menjadi khaligah di muka bumi hingga beratus-ratus tahun. Istri Nabi Adam a.s , Hawa melahirkan keturunan yang kemudian menjadi nabi, salah satunya Nabi Idris a.s.

Bagaimana kronologis Nabi Adam bisa sampai diturunkan ke Bumi? Lalu bagaimana p**a kehidupan Nabi Adam dan Hawa ketika di Bumi?

Semua bisa disimak di Buku 24 Nabi dan Rosul Teladan Utama 😉

13/10/2017

*ABDUL RAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN*

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi "down", saya selalu terhibur mengingat kisah bisnis Abdul Rahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah Saw berkata, Abdul Rahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya.
Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh.
Abdul Rahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat r.hum tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur..Alhamdulillah..kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdul Rahman bin Auf.

Sahabat gembira.
Abdul Rahman bin Auf r.a pun gembira.
Semua happy!

Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku.
Abdul Rahman bin Auf r.a gembira juga sebab...berharap
jatuh miskin!

MasyaAllah..hebat.
Coba kalau kita?
Usaha goyang dikit, udah teriak tak tentu arah.

Abdul Rahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin.

Namun.. Subhanallah..Rencana Allah itu memang terbaik..

Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah KURMA BUSUK !

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdul Rahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahuakbar..Orang lain berusaha keras adi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah:

"Wahai manusia, di langit ada rezki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian " (Qs. Adz Dzariat, 22 )

Jadi..yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

ALLAH Swt lah yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat special buat kita, sebab ini membuat kita harus YAKIN bahwa rezeki itu totally dari Allah.
Bukan hanya karena usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omzet yang banyak.

Kadang-kadang, KEYAKINAN dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat...

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita.

"Terkadang yang dibutuhkan anak bukan nasihat namun hanya perhatian dari ibunya. Jadilah 'just Mommy' yang dengan ketulu...
13/10/2017

"Terkadang yang dibutuhkan anak bukan nasihat namun hanya perhatian dari ibunya. Jadilah 'just Mommy' yang dengan ketulusan dan kasih sayangnya anak merasa bahwa ibu adalah sosok yang paling nyaman untuknya, sosok yang paling dirindukan olehnya. *Karena misi pertama seorang ibu adalah mengikat hati anaknya.*"

(Ustadz Bendri Jaisyurrahman)

"Barangsiapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, ber...
13/10/2017

"Barangsiapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orangtua meninggaljan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama berikut sunnah-sunnahnya."

(Ibnul Qayyim al-Jauziyah)

Suara Al-Iman:📝   (Pendidikan Anak)*BERDOA KEBAIKAN UNTUK ANAK*👤Syaikh Abdurrazzàq -semoga Allah menjaga beliau- berkata...
06/10/2017

Suara Al-Iman:
📝 (Pendidikan Anak)

*BERDOA KEBAIKAN UNTUK ANAK*

👤Syaikh Abdurrazzàq -semoga Allah menjaga beliau- berkata : Diantara hal penting dalam mendidik anak yaitu berdoa kebaikan untuk mereka. Doa kebaikan untuk anak bisa dilakukan ;

✔ Sebelum kehadiran mereka (sebelum Allah memberi karunia seorang anak kepada orang tua).

✔Sesudah hadirnya mereka (setelah Allah memberikan karuniaNya berupa hadirnya anak dalam kehidupan rumah tangga kita). Orang tua hendaknya berdoa untuk anaknya agar Allah menjadikan mereka menjadi anak yang sholeh /sholehah serta berpegang teguh dengan agama.

Di dalam al-qur'an, Allah menyebutkan beberapa do'a yang dipanjatkan oleh para Nabi 'alaihimussalàm untuk kebaikan anak-anak mereka ;

👉 Nabi Ibrahim 'alaihis salàm pernah berdo'a :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

" Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh". [QS. Ash Shaffaat: 100]

👉 Beliau juga pernah berdo'a :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي

"Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang senantiasa mendirikan shalat dan juga anak keturunanku". [QS. Ibrahim : 40]

👉 Nabi Zakaria alaihis salàm juga pernah berdoa :

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

"Di sanalah Zakaria berdo'a kepada Tuhannya. Dia berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi -Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do'a". [QS. Àli Imràn : 38]

Allah menyebutkan salah satu doa yang dipanjatkan hambaNya :

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa". [QS. Al Furqàn : 74]

📚 [Lihat Ar-rakàiz fì tarbiyatil abnà'i , karya Syaikh Abdurrazzaq, halaman 8].

Saudaraku, janganlah kita lalai atau terlupakan untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita. Doa merupakan amalan yang mudah dilakukan namun butuh kesungguhan dan keseriusan.

Marilah kita amalkan do'a do'a di atas di dalam sujud kita, mari kita baca do'a di atas di saat sepertiga malam terakhir, atau di antara adzan dan iqomah atau diwaktu kapanpun sesuai dengan kemampuan kita.

Semoga Allah mengkaruniakan kepada kita semua keturunan yang sholeh/sholehah. Àmìn.

✏ Ustadz Budi Santoso, Lc حفظه الله تعالى
___
💻 www.suaraaliman.com
📺 Youtube.com/user/suaraalimantv
👥 fb.com/radiosuaraaliman
📻 Radio 846 AM SURABAYA
✉ SMS/WA 087770000846

Radio Suara Al-Iman 846 AM Surabaya

23/09/2017

Marlitha Giofenni:
BUKU PERTAMAKU
Oleh Jayaning Hartami

Disampaikan sebagai materi kulwap untuk grup WA CERIA (Cerita Ibu dan Anak)

"Buku buku hanyalah benda mati. Ayah Ibu lah yang bertugas untuk menjadikannya hidup di hati anak anaknya.." (Jayaning Hartami)

Ayah ibu, pernahkah mengamati apa yang terjadi ketika seorang balita diberikan sebuah kertas oleh orang di sekitarnya?

Dia akan sibuk mengutak atik kertas itu. Mulai dari meremas, merobek, menggenggam, menggigit, dan banyaaak kegiatan lain yang bisa balita kita lakukan hanya dengan selembar kertas.

Kenapa?

Karena bagi balita kita, segala sesuatu di sekitarnya adalah hal yang menarik untuk di eksplorasi. Beda dengan orang dewasa yang saat melihat kertas mungkin hanya memandangnya sebagai benda yang dipakai untuk menulis sesuatu.

Ketertarikan yang besar akan segala hal. Ini yang sesungguhnya merupakan potensi priceless dari anak anak kita di masa awal hidupnya. Masa yang sering disebut sebut sebagai fase Golden Age.

Di fase usia itu lah mengenalkan anak pada buku dan melibatkannya dalam aktivitas membaca menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Membaca, pada balita kita, ga perlu dipersepsikan sebagai aktivitas serius duduk manis sambil menyelesaikan buku hingga halaman terakhir.

Fokus utama kita ada pada pembiasaan. Membuat anak familiar berinteraksi dengan buku. Dikelilingi berbagai banyak buku di sekitarnya. Membaca pada balita kita bisa jadi hanya sekedar tunjuk tunjuk liat cover buku. Bisa jadi hanya sekedar membolak balik halaman yang itu itu aja. Bisa juga cuma melihat gambar tanpa mempedulikan isi bacaan.

Membacakan buku pada balita kita, bisa berbentuk banyak model aktivitas. Mungkin gak cuma duduk, tapi juga berdiri. Bahkan sambil lari lari. Bebas! Karena lagi lagi, fokus kita ada pengenalan. Menunjukkan pada anak bahwa buku adalah teman main yang mengasyikkan.

Kenapa harus sejak dini?
Kenapa ga nanti nanti aja, memang anaknya udah ngerti?

Jujur aja, dulu sayapun punya pertanyaan serupa.

Tapi pernahkah coba kita renungkan,
Bahwa sesungguhnya kita sedang berpacu dengan waktu.

Karena mungkin di beberapa tahun awal hidupnya, anak sudah akan bertemu banyak media hiburan lainnya.

Berkenalan dengan tv, main gadget, play station dan masih banyak lagi. Dan apa yang terjadi jika mereka sudah lebih dulu memperoleh kesenangan dari semua media itu?

Buku akan terasa menjemukkan. Aktivitas membaca akan kerasa membosankan. Gambarnya gak ada. Kalopun ada, gak bisa bergerak. Belum lagi otaknya harus bekerja teliti memahami bacaan, beda banget sama kecepatan berubahnya tayangan visual di tv.

Buku buku kita, sudah akan kalah bersaing dalam memperebutkan hati mereka.

Tapi lagi lagi buku buku hanyalah benda mati.
Kunci ada di kita, orang tuanya.

Karena di atas perlunya buku buku, anak anak lebih dulu perlu punya Ayah Ibu yang memberikan contoh nyata bahwa aktivitas membaca adalah salah satu nyawa di rumah mereka.

Bahkan ketika buku buku berkualitas sudah tersedia apik di rumah. Pekerjaan paling penting sesungguhnya adalah, apakah orang tua bersedia bersungguh sungguh menjadikan buku buku sebagai bagian dari keluarga mereka?

"Children are made readers on the laps of their parents."
-Emilie Buchwald

22/09/2017

*Cara cerdas menghukum anak*

Cara cerdas menghukum anak?

Seorang ibu berkata: "Saya memiliki dua orang anak, pertama berusia 6 tahun dan yang kedua 9 tahun, saya bosan terlalu sering menghukum mereka karena hukuman (iqob) tidak ada manfaatnya, kira-kira apa yg harus aku lakukan?".

Saya berkata: "Apakah anda sudah mencoba metode memilih hukuman?
Ibu tersebut menjawab: "Saya tidak paham, bagaimana itu?"

Saya jawab: "Sebelum saya jelaskan metode ini, ada sebuah kaidah penting dalam meluruskan perilaku anak yang harus kita sepakati, bahwa setiap jenjang usia anak memiliki metode pendidikan tertentu. Semakin besar anak akan membutuhkan berbagai metode dalam berinteraksi dengannya. Namun, anda akan mendapati bahwa metode memilih hukuman cocok untuk semua usia dan memberikan hasil yang positif".

Sebelum menerapkan metode ini kita harus memastikan, apakah anak melakukan kesalahan karena tidak tahu (tanpa sengaja), jika kondisinya seperti ini tidak perlu dihukum namun cukup diingatkan kesalahannya.

Tetapi jika kesalahannya diulangi atau melakukannya dengan sengaja, kita bisa menghukumnya dengan banyak cara diantaranya tidak memberinya hak-hak istimewa, memarahinya dengan syarat bukan sebagai pelampiasan( balas dendam) dan jangan memukul.

Kita juga bisa menggunakan Metode Memilih Hukuman.

Idenya begini, kita meminta anak duduk merenung, dan memikirkan tiga jenis hukuman yang diusulkan kepada kita seperti: tidak diberi uang jajan, tidak boleh bermain ke rumah temannya selama seminggu, atau tidak boleh menggunakan handphone selama sehari.
Kemudian kita pilih salah satu untuk kita jatuhkan padanya.

Ketika tiga hukuman tidak sesuai dengan keinginan orang tua, contohnya: tidur, atau diam selama satu jam atau merapikan kamar, maka kita minta dia untuk mencari lagi tiga hukuman lain.

Ibu ini menyela: "Tapi kadang hukuman-hukuman yang diusulkan tersebut tidak memberi efek/tidak membuat anak sadar juga!"

Saya katakan: "Kita harus membedakan antara ta'dib (mendidik) dengan ta'dzib (menyiksa)!".

Tujuan ta'dib adalah meluruskan perilaku yang salah pada anak dan ini butuh kesabaran, pengawasan (mutaba'ah), dialog dan nasehat yang terus-menerus.

Sedangkan berteriak didepan anak atau memukulnya dengan keras, ini ta'dzib bukan ta'dib; karena kita menghukum anak tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan tapi berlebihan, sebab disertai dengan marah. Disebabkan kita banyak tekanan hidup lalu kita lampiaskan kepada anak dan anak jadi korban. Kemudian kita menyesal setelah menghukum mereka atas ketergesaan kita.

Kemudian saya berkata: Saya tambahkan hal penting, ketika anda berkata kepada anak anda: Masuk kamar, merenung dan dan pikirlah tiga jenis hukuman dan saya pilihkan satu untukmu. sikap seperti ini adalah merupakan pendidikan (ta'dib) untuk sendirinya karena ada dialog batin dengan dirinya, antara anak yang melakukan kesalahan dengan dirinya. Ini merupakan tindakan yang baik untuk meluruskan perilaku anak dan memperbaiki kesalahan yg telah diperbuat.

Si Ibu berkata: "Demi Allah, ide yang bagus, saya akan coba".

Saya bilang: "Saya sendiri telah mencobanya, bermanfaat dan berhasil. Banyak juga keluarga yang mencoba menerapkannya dan ampuh juga hasilnya".

Karena ketika anak memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Maka sesungguhnya kita telah menjadikannya berperang dengan kesalahannya, bukan ketegangan dengan orang tuanya, disamping kita bisa menjaga ikatan cinta orang tua dengan anak.

Selain itu kita telah menghormati pribadi anak dan menjaga kemanusiaannya tanpa menghina ataupun merendahkannya.

Siapa yang merenungkan metode ta'dib Rasululllah shallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang yang melakukan kesalahan maka akan didapati bahwa beliau menta'dib dengan menghormati, menghargai dan tidak merendahkannya.

Kita menemukannya dalam kisah wanita Ghamidiyah yang berzina dan minta di rajam, salah seorang sahabat mencelanya lalu Rasulullah bersabda: "Sungguh dia telah bertaubat, andai (taubatnya) dibagikan dengan penduduk madinah, niscaya mencukupi".
Sikap menghormati pelaku kesalahan harus tetap ada selama dalam proses ta'dib.

Si ibu tadi pergi dan kembali lagi setelah sebulan. Dia bertutur: " Metode ini benar-benar ampuh diterapkan pada anak-anak saya, sekarang saya jarang emosi, dan mereka memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Saya berterima kasih atas ide ini, tapi saya mau bertanya dari mana anda mendapatkan metode cemerlang ini?"

Saya jawab: "Saya ambil dari metode Al-Qur'an dalam mendidik (ta'dib).

Allah _subhanahu wata'ala_memberikan tiga pilihan hukuman kepada orang yang melakukan dosa dan kesalahan, seperti kafarat bagi orang yang menggauli istrinya disiang hari bulan Ramadhan, kafarat sumpah dan kafarat lainnya, yaitu: memerdekakan budak, atau puasa atau memberikan sedekah. Syariat Islam memberikan tiga pilihan bagi pelaku kesalahan ini. Metode mendidik yang sangat indah".

Ibu berkata: "Jadi ini metode pendidikan Al-Qur'an?"

Saya jawab: "Betul, sesungguhnya Al-Qur'an dan As-Sunnah memiliki banyak metode pendidikan yang luar biasa dalam meluruskan perilaku manusia, baik anak kecil maupun orang dewasa; karena Allah yang menciptakan jiwa-jiwa dan Dia lebih tahu apa yang pantas dan metode apa yg cocok bagi jiwa-jiwa tersebut. Metode mendidik sangat banyak diantaranya 'metode memilih hukuman' yang telah dijelaskan".

Lalu si ibu tadi pergi dalam keadaan bahagia memperbaiki anak-anaknya dan bertambah cinta pada rumahnya.

Diterjemahkan oleh:
Ust. Achmad Fadhail Husni, Lc.
Pusat Peradaban ISLAM
Jl. Gayungsari I/89 Surabaya
Telp. 031 8299312

Address

KTW TAman Flora
Bekasi
17610

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Taman Belajar Anak posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Taman Belajar Anak:

Share