28/08/2026
Begini Cara Ketahui Perbedaan Fast Charging
Aisyah Mustika Zamani - Liputan6.com
26 Agustus 2026 | 06.30 WIB
liputan6.com - Di pasaran, terdapat banyak sekali jajaran istilah teknis fast charging seperti USB PD, PPS, SuperVOOC, hingga HyperCharge. Istilah-istilah ini seringkali membingungkan banyak pengguna. Sebelum ada teknologi pengisian daya cepat ini, pengisi daya lewat USB berjalan sangat lama. Seiring dengan peningkatan penggunaan ponsel pintar, produsen mulai mengembangkan sistem pengisian daya cepat. Kemudian dari sana, lahir teknologi proprietary seperti Quick Charge dari Qualcomm, SuperVOOC milik Oppo, hingga HyperCharge dari Xiaomi. Demikian sebagaimana dikutip dari Engadget, Rabu (26/8/2026).
Sebagai catatan, adanya port USB-C tidak otomatis menjamin pengisian daya cepat. Kecepatan pengisian biasanya bergantung pada teknologi di dalam perangkat dan kompatibilitas aksesori yang digunakan. Untuk mendapatkan pengisian fast charging dengan maksimal, pengguna perlu memadukan perangkat dengan kabel dan pengisi daya yang tepat. Menghubungkan ponsel dengan batas daya 20W ke charger 100W tidak akan mendadak mempercepat pengisian daya. Standar Utama di Pasaran.Saat ini, USB Power Delivery (USB PD) menjadi standar yang paling mendekati status standar universal. Standar ini digunakan secara luas pada ponsel, tablet, hingga laptop.
Versi terbarunya, USD PD 3.1, bahkan mampu menyalurkan daya hingga 240W, dan USB PD 3.2 ditujukan untuk perangkat dengan kebutuhan daya besar seperti laptop dan monitor. Sementara untuk ponsel pintar, daya sebesar itu tidak diperlukan sebagaimana karena keterbatasan termal. Kini iPhone 17 hingga flagship Android mengandalkan USB PD. Khusus beberapa Android, terdapat fitur Programmable Power Supply (PPS). Fitur ini memungkinkan ponsel meminta penyesuaian tegangan dan arus secara presisi dan real-time, sehingga meningkatkan efisiensi dan membantu mengelola suhu.
Fakta Fast Charging Memengaruhi Battery Health
Terdapat mitos mengenai apakah pengisian daya cepat dapat merusak baterai. Secara teori, suhu panas yang muncul dari pengisian cepat memang mempercepat degradasi baterai lithium-ion. Namun, ponsel modern kini sudah dirancang