30/12/2024
Catatan di Akhir Tahun…..
MAKHLUK RELASIONAL SADAR DIRI
Di akhir tahun ini kami mengajak sahabat sahabat untuk merenung sejenak tentang jejak langkah kita sepanjang hidup ini…….
Pertanyaan dasar yang diajukan “ Apakah hidup kita memuliakan Tuhan ?”
Apakah kita sadar dan menyadari bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang utuh oleh Dia, karena Dia dan untuk Dia, Coram Deo - sebagai representasi Allah untuk menyatakan kemuliaanNya.
Alkitab menuliskan kisah tentang kerinduan seorang manusia, Daud, di tengah keadaan yang amat sulit. Dalam kondisi sulit dan tertekan Daud memiliki kerinduan dari bagian terdalam dirinya, rohnya. Ia mengungkapkan rasa lapar yang mencakup apa yang disadari tentang dirinya: “Mengapa kamu putus asa, hai jiwaku, dan mengapa kamu dalam kekacauan di dalam diriku? Berharaplah pada Tuhan; karena aku akan memuji dia lagi, keselamatanku dan Allahku” (Mazmur 42:5-6).
Daud memiliki kerinduan yang menyadari seperti apa keadaan dirinya. Dia berbicara kepada dirinya sendiri, kepada jiwanya. Dia sadar diri, merasakan dalam dirinya sedang resah, terganggu dan putus asa, dia merindukan kedamaian batin — dia haus akan desain asli dirinya. Diantara ciptaan Tuhan lainnya manusia diciptakan berbeda, yaitu memiliki keunikan, memiliki sadar diri, kemampuan untuk merefleksikan pengalaman batinnya.
Tuhan merancang kita dengan kapasitas untuk berhubungan dengan diri sendiri: Kita adalah makhluk yang sadar diri, bukan seperti komputer atau android dengan kecerdasan buatan. Kami bukan hewan yang hidupnya hanya dengan naluri alamiah. Kita bisa merenungkan keberadaan kita sendiri. Di dalam Alkitab dikatakan:…. Janganlah “menilai dirimu lebih tinggi daripada yang seharusnya. Kamu harus menilai dirimu apa adanya, masing-masing sesuai dengan ukuran iman yang Allah berikan kepadamu (Rm 12:3 AMD).
Tuhan juga merancang kita sebagai makhluk spiritual untuk menyembah dan berkomunikasi dengan-Nya. “Tempat Mahakudus (The Holy of Holy)” jiwa kita adalah kemampuan kita untuk mencintai dan menyembah Tuhan. Seperti rusa yang merindukan air, demikianlah kita haus dan merindukan Tuhan. Itulah kerinduan terdalam di hati Daud. Kerinduan itu menjadi target kehidupan seseorang, penunjuk arah, dan tongkat pengukur.
Di akhir tahun ini sekali lagi mari kita ber kontemplasi sejenak, merenungkan apa yang kita sadari tentang diri kita ? “Seberapa baik saya menyembah Allah? Apakah saya memiliki naluri dasar haus akan Allah dengan segenap jiwaku? Siapa diri kita di dalam Kristus ?”(DS)
Welcoming The Goodness of God. Selamat Menyongsong Tahun 2025
counseling academy