18/09/2023
Beberapa waktu lalu kami berkesempatan berdiskusi bersama teman-teman mahasiswa sastra dan sejarah Fakultas Adab & Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Kurang lebih tema yang diangkat adalah "Melihat dan menilai sejarah Aceh dari sudut pandang Kaphe"
Adapun beberapa kesimpulan bahwa Dalam pengantar buku terbitan 1985, Yayasan Soko Guru menyebutkan bahwa tulisan dari tuan Seunut (tuan Pecut -sebuah panggilan satir kepada Snouck Hurgronje) merupakan buah pikir dan penelitian dari sudut pandang "Kaphe"(Kafir-sebutan orang-orang Aceh untuk penjajah Belanda), sehingga buku ini oleh Yayasan Soko Guru diberi judul "Aceh di Mata Kolonial" yang terinspirasi dari kata-kata masyarakat Aceh "Geutanyoe Bak Mata Kaphe" yang berarti kita di mata orang Kafir. Yayasan Soko Guru menggaris bawahi bahwa di dalam buku ini terdapat beberapa tulisan yang sangat memungkinkan meresahkan pembaca, sehingga diharapkan pembaca dapat lebih bijaksana dalam mencerna informasi yang didapatkan dari buku ini.
Snouck Hurgronje berada di Aceh dari tanggal 16 Juli 1891 sampai dengan 4 Februari 1892 (7 bulan), ia tiba sekitar 18 tahun setelah pecahnya Perang Aceh melawan Belanda pada tahun 1873. Saat tiba di Aceh Snouck Hurgronje dikenal sebagai Haji Abdul Ghaffar atau Tengku Puteh, ia sempat berkhotbah sekaligus menjadi imam selama ia berada di Aceh. Snouck paham betul terkait titik lemah orang Aceh yang menurutnya orang Aceh sangatlah fanatik terhadap agamanya, sehingga menemukan celah untuk meredam perlawanan rakyat Aceh dengan cara mengadu domba antara pihak bangsawan Aceh dan pihak Ulama Aceh, karena kunci perlawanan Aceh bukan pada petinggi ataupun rajanya akan tetapi terletak pada pada alim ulamanya, itulah yang membuat Aceh sangat sulit untuk ditaklukkan karena rakyat Aceh menganggap perang tersebut, perang suci melawan penjajah kafir barang siapa yang gugur di dalam perang dianggap mati syahid yang disiarkan melalui Hikayat Prang Sabi. Menurut Snouck sendiri lebih mudah untuk merusaknya dari dalam dengan cara menyesatkan pemahaman islam terhadap orang Aceh, ketimbang merusaknya dari luar dengan cara berperang.
(.nur , tim GR Kreatif)