22/05/2020
"AKU INGIN MENIKAH LAGI, SAYANG..."
Aku tau, saat itu air matanya sembab saat kuutarakan keinginanku untuk menikah lagi.
Aku telah memenuhi semua syarat darinya jika hasratku tak terbendung lagi.
Maka saat anak-anak sedang tidur, aku mencoba membangunkannya. Mengajak ia bicara dari hati ke hati.
"Tak cukupkah bagimu satu istri dihidupmu, Mas?" Ujarnya pilu. Nadanya sedikit gemetar, tapi ia berusaha untuk tetap tegar. Air bening menyeruak pelan diujung matanya
"Aku tak bisa mendzalimimu jika pada akhirnya aku memilih selingkuh.." Kataku sedikit pembelaan. "Lebih baik berterus terang. Sesuai syaratmu, harus lebih baik darimu. Aku telah menemukannya.."
Istriku mendadak mengalihkan wajah, tak mau memandangku. Isak tangisnya pecah.
"Bisakah kau pertimbangkan bagaimana perasaan keluargaku? Jika mengetahui aku dimadu?"
"Sudah kupertimbangkan jauh sebelum aku mengambil keputusan itu. Ini jalan terbaik."
" Apakah kau bisa mengerti perasaanku?" tanya nya lagi.
"Ini jalan satu-satunya... " Jawabku singkat. Ini sudah finish. Berminggu-minggu membayangiku. Sangat mengganggu tidurku.
"Apakah ia lebih cantik dariku??"
Bukan, dia sangat menarik. Pribadinya unik, lucu, dan memiliki prinsip yang kuat. Hal itu membuatku jatuh hati. Pria mana yang tidak tertarik? Akupun tak bisa menampikkan itu.
Aku menganggukkan kepala pelan. Mengiyakan pertanyaannya.
Ia diam sesaat. Menundukkan kepalanya tak ingin melihatku.
"Apakah kau masih mencintaiku, Mas...?" Nadanya bergetar.
Aku terdiam beberapa saat. Aku kembali teringat perjuanganku meminangnya. Aku ingat semua pengorbanan darinya. Aku ingat bagaimana ia dengan sabar menemaniku dari awal. Aku tak memiliki apa-apa saat itu. Ia membuktikan kebesaran cintanya dalam wujud cinta sebenarnya. Keputusannya menerima pinanganku bukan mudah. Wanita yang mapan secara usia dan finansial itu dipinang oleh lelaki yang tak mapan secara finansial, serabutan, dan terpaut 10 tahun usianya lebih muda. Aku tau, niatku ini sangat gila dan kurang ajar. Wanita lain mungkin mengutukku dengan sumpah serapah.
Bisa kubayangkan betapa hancur hatinya saat ini. Aku tau, dia sangat kecewa padaku. Kulihat lagi anak- anak yang sedang tidur. Teringat aku bagaimana anak-anak sangat membutuhkan kasih sayangku.
Apalagi yang aku cari. Rumah tanggaku tenteram. Istriku shaliha, dianugerahkan anak-anak yang jelita, juga patuh pada orang tua. Aku sangat beruntung mendapatkan anugerah hidup yang mungkin diidamkan para pria lain diluar sana. Tapi apa yang terjadi denganku???
"Aku sangat mencintaimu... Bahkan lebih dari itu..." Jawabku, seraya membelai jilbabnya lembut.
"Harusnya kau katakan padaku lebih dulu, bahwa kau tak mau dimadu. Kau mengajukan syarat padaku, seakan-akan kau merestui keinginanku. Dan sekarang aku jatuh cinta lagi pada wanita lain, tanpa mengurangi rasa cintaku padamu.." Tambahku lagi.
"Tapi bagaimana dengan anak-anak kita, Mas..." Nada nya sedikit menekan.
Dalam keadaan yang begitu rumit pun, kau tetap menahan amarah dan tak mengurangi sedikitpun rasa hormatmu padaku.
Aku tertunduk.
"Mereka sangat membutuhkanmu. Bisa kau bayangkan jika ada wanita lain yang asing bagi mereka masuk kerumah ini, menjadi bagian dari isi rumah ini? Bisa kau bayangkan bagaimana tetangga menilai kita, Mas? "
"Aku akan memberikan pengertian kepada anak-anak, sayang ..." Timpahku.
" Dan aku tak peduli penilaian tetangga terhadapku."
Dia tau, bahwa aku keras kepala. Dia tau bahwa aku pria yang jika meneguhkan sesuatu, apapun takkan bisa menghalangi. Dia tau, aku pria jika bertekad sekuat baja.
Tangisnya sudah tak terbendung lagi dalam pelukanku. Ia sesenggukan. Ia tak sanggup lagi bicara.
Dulu sekali, saat aku tak memiliki penghasilan yang pasti dan ekonomi dalam keadaan morat-marit, dia memelukku. Mencoba menenangkanku. Menguatkanku. Bahkan ia tak segan-segan menjual satu-satunya perhiasan yang diwariskan dari ibunya untuk dijualkan. Ia wanita yang sangat pandai menjaga kehormatanku. Aku sangat menyadari itu.
Aku memeluknya erat, namun tak mengendurkan niat. Aku bersikeras. Ia masih memelukku.
"Aku yakin kau bisa hidup berdampingan dengannya, sayang. Dia wanita yang baik. Aku mengenalnya, mengenali tabiatnya, mengenali semua prilakunya. Itu sebabnya aku terpikat. Itu sebabnya aku berfikir kalian bisa bersama dalam rumah ini nantinya..."
Demi mendengar itu. Tangisnya makin meledak. Sekuat tenaga ia tahan rengeknya, agar anak-anak tak bangun dari tidur. Ia meninju dadaku pelan.
"Aku mencintaimu sayang .. Juga dia..." lirihku.
Istriku melepaskan pelukannya. Menatapku seraya membenahi jilbabnya. Mengatur nafas dan sebisa mungkin meredakan laju tangisnya. Pandangannya dalam sekali. Matanya sembab. Pipinya basah.
"Silahkan, jika itu maumu Mas... Aku percaya keputusanmu sudah kau pikirkan masak-masak. Aku sangat percaya, kau mampu bertanggung jawab atas pilihanmu. Aku tidak bisa menahanmu lebih kuat dari ini selain aku merelakan dan mengikhlaskanmu. Kau berhak memilih jalan hidupmu. Namun izinkan aku berdamai dengan diriku sendiri. Rasanya tak mudah bagiku untuk menerima ini, dan sangat membutuhkan waktu untuk bisa beradaptasi dengan dia jika berada dirumah ini. Aku butuh pemakluman dan pengertianmu, Mas. Bimbing aku. Kuatkan aku..." Ungkapnya padaku.
Aku tau, butuh kesabaran tingkat tinggi untuk mengatakan itu. Hatinya lebur, harapannya untuk menua bersamaku harus berliku.
Senyum kecil terbit diwajahku. Aku kembali memeluknya, bahkan lebih erat.
Dalam pelukan yang begitu dramatis dan syahdu itu. Seketika aku dikagetkan dengan suara yang keras menepuk pundakku.
"Bangun, Mas..."
"Mas... Kau minta dibangunkan jam setengah tujuh..."
"Bangunlah, Mas..." Ujar Istriku berusaha membangunkan ku...
Aku lekas terbangun. Kepalaku pusing. Pandanganku berkunang.
Masya Allah, batinku.
Mimpiku sangat lekat diingatan. Persis nyata. Sungguh anugerah. Kupandangi istriku dengan seksama, rasanya tidak mungkin.
Dulu pernah bergurau saat menemaninya sedang beraktivitas didapur, mengatakan ingin menikah lagi. Bisa dibayangkan. Bukan hanya satu-dua gelas pecah berserakan. Anak- anak segera berkerumun kaget mendengar suara bising itu. Matanya nanar bernyala, sambil menunjuk-nunjuk pisau dapur kearahku.
"Sekali lagi mengatakan itu, jangan salahkan kalau aku khilaf memotong perkakasmu!!"
Aku ngilu. Aku juga ngeri saat membayangkan itu.
Kulihat anak-anak menggigil menahan tawa seraya menunjukku.
Dugaan keras mereka tak mengerti apa yang diucapkan Ibunya. Tapi mereka geli melihat aksi Ibu mereka, rasakan... Mungkin begitu maksudnya.
"Mas...." Teriaknya nyaring dari dapur. "Kopimu nanti dingin..."
"Iya, sayang... Aku bangun..." Ucapku seraya tersenyum dan menuju dapur.
Dalam hati aku menggerutu, mimpi itu terlalu indah bagiku. Bisa jadi itu adalah mimpi terbaikku dihidupku.
"Copas dari grup KBM"