01/09/2025
Refleksi Usia 28: Surat untuk Diri Sendiri
Hai Aku, apa kabar?
Aku tahu kamu sudah melalui banyak hal.
Ada hari-hari di mana kamu merasa kuat, ada hari-hari di mana kamu merasa rapuh. Tapi satu hal yang pasti: kamu masih ada di sini. Dan itu sudah cukup sebagai bukti bahwa kamu bisa bertahan.
Diriku, aku ingin kau ingat: tidak semua hal bisa kamu kendalikan.
Kamu tidak bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan, apa yang mereka lakukan, atau bagaimana dunia memperlakukanmu. Yang bisa kamu kendalikan hanyalah dirimu sendiri: pikiranmu, sikapmu, caramu merespons hidup. Dan di situlah letak kekuatanmu.
Kamu sering merasa bahwa hidup ini tidak adil, bahwa perjuanganmu tidak selalu dihargai. Tapi bukankah itu bagian dari kehidupan? Dunia memang tidak pernah berjanji akan berjalan sesuai harapan kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima kenyataan apa adanya, lalu memilih untuk tetap melangkah dengan kepala tegak.
Hai Aku, di usia 28 ini kamu belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari hal-hal di luar dirimu. Ia lahir dari bagaimana kamu menata batinmu. Dari kesanggupanmu berkata: “Aku cukup. Apa yang kumiliki hari ini, siapa aku hari ini, sudah cukup.”
Ada banyak hal yang sudah kamu lewati—rasa sakit, kecewa, kehilangan, dan juga kebanggaan kecil yang mungkin tidak disadari orang lain. Semua itu adalah bagian dari latihan jiwa.
Dan sekarang, kamu mulai paham: hidup bukan tentang menghindari penderitaan, tapi tentang bagaimana kamu menghadapi penderitaan dengan tenang. Hidup bukan tentang menguasai dunia, tapi tentang menguasai diri sendiri.
Diriku, aku ingin kau terus mengingat hal ini:
Segala sesuatu yang di luar kendalimu hanyalah “tamu sementara”. Jangan biarkan mereka merusak kedamaianmu. Jangan biarkan hal-hal yang fana mencuri ketenangan yang ada di dalam dirimu.
Jika ada yang datang, sambutlah.
Jika ada yang pergi, relakanlah.
Karena yang terpenting bukanlah apa yang kau miliki atau siapa yang ada di sisimu, melainkan bagaimana kau menjaga dirimu tetap teguh.
Kini, di usia 28, kamu tidak lagi sekadar mencari jawaban di luar. Kamu belajar melihat ke dalam. Kamu mulai memahami bahwa nilai hidupmu bukan ditentukan oleh pandangan orang lain, melainkan oleh kebijaksanaanmu menjalani hari.
Suatu hari nanti, ketika kamu menoleh ke belakang, kamu akan berkata:
"Aku pernah goyah di usia 28, tapi aku juga belajar menemukan diriku sendiri di usia ini. Aku belajar bahwa tenang lebih berharga daripada pengakuan. Bahwa sabar lebih kuat daripada amarah. Dan bahwa kendali sejati bukan pada dunia, melainkan pada diri sendiri."
Jadi, hai aku… teruslah berjalan dengan sederhana.
Terimalah apa yang datang.
Lepaskan apa yang pergi.
Dan jagalah agar hatimu tetap tenang, apa pun yang terjadi.
Bulukumba, 28 Agustus 1997-2025