12/09/2023
Investasi Itu Bernama Kepala Desa.
Hari ini warga Magetan di beberapa daerah melakukan Pemilihan Kepala Desa secara serentak. Pemilihan kali ini agak berbeda dibandingkan pemilihan-pemilihan sebelumnya. Dimana proses Pilkades hari ini menggunakan sistem e-voting. Warga tinggal datang ke bilik suara dan memencet calon pilihannya yang akan masuk ke sebuah sistem. Sebuah cara yang sangat modern dan berkemajuan tentunya. Simple, ringkas dan cepat, hasil Pemilu bisa diketahui tidak lebih dari setengah jam pasca pemilihan.
Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah bagaimana proses vote getter (pengambilan suara pemilih) masih menggunakan cara-cara yang masih purba. Ironis memang, di satu sisi kita berkemajuan dengan teknologi, tetapi masih menggunakan metode-metode kuno yang seharusnya sudah lama kita tinggalkan. Prakterk money politic sangat kental tercium di setiap Pilkades. Bahkan tidak urung menyebabkan gesekan di antara para warganya sendiri.
Para Calon Kepala Desa itu berlomba-lomba menghamburkan uang hanya untuk mendapatkan suara para pemilih. Yang bisa juga dikatakan bahwa pemilih dijadikan sebagai objek investasi oleh orang-orang yang fotonya terpampang di dekat bilik suara. Sudah bukan rahasia umum lagi, sepintar dan sebaik apapun seorang Calon Pemimpin, tidak akan pernah bisa menjadi Pemimpin jika tidak memiliki cukup uang. Lantas apa yang kemudian terjadi? Para Calon pemimpin ini hutang kesana-kemari untuk menutup biaya "uang saku" voter yang tentu saja jumlahnya tidak sama dengan uang saku anak SD atau madrasah. Dengan demikian bisa diterawang bersama, yang akan terjadi kemudian Sang Yang Dipertuan Agung Mbah Lurah Ingkang Mbaurekso akan melakukan berbagai cara untuk mengembalikan hutang-hutangnya setelah terpilih menjadi pemimpin di daerah tersebut melalui sunatan dana proyek, ngentit dana desa, dan bukan tidak mungkin bermain dengan dana-dana hibah. Mungkin hal tersebut di atas hanya asumsi dan suudzon belaka, tetapi bisa kita pastikan bersama bahwa ketika orang baik melakukan praktek money politic, maka dia sudah menjadi orang yang tidak baik-baik saja.
Bersambung Part 2